Mahasiswa S1 keperawatan Kembangkan Aplikasi Terintegrasi Webhealth Untuk Rehabilitasi Paru Pada Pasien TB, Jadi Juara LKTI Nasional

Mahasiswa S1 keperawatan Kembangkan Aplikasi Terintegrasi Webhealth Untuk Rehabilitasi Paru Pada Pasien TB, Jadi Juara LKTI Nasional. Lomba karya tulis ilmiah tersebut bertemakan Peran Gen Z sebagai Agent of Change (AoC) dalam Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), diselenggarakan oleh Fakultas kedokteran, Universitas Tanjungpura, Pontianak. Mahasiswa yang menggawangi gagasan ini antara lain, Ragil efendi, Ajeng yuli wijayanti dan Ayusmia kurniawati.   Ragil, selaku ketua kelompok menjelaskan bawa Gagasan “Ayo Berantas TB” ini berbasis mHealth dengan terintegrasi WebHealth dengan di dalamnya. Terdapat beberapa fitur yang dapat mendukung dalam proses rehabilitasi paru pada pasien TB, sehingga pasien akan mudah menjalani masa penyembuhan penyakit TB. Selain itu, aplikasi ini disematkan fitur agar tenaga kesehatan dapat memantau kepatuhan pasien TB. Adapun menu yang ditawarkan dalam aplikasi di antaranya pengenalan TB, fitur batuk efektif, terapi nafas, gaya hidup, terapi berhenti merokok, kepatuhan dan terapi psikologis serta konseling, tandasnya. Ayusmia juga menjelaskan bahwa aplikasi ini sebagai Upaya Penyelesaian Kasus TB di Indonesia berbasis konsep Pulmonary Rehabilitation. Aplikasi ini dirancang dengan mengacu pada konsep MDLC (Multimedia Development Life Cycle) dengan proses pengujian berdasarkan kuesioner MARS (Mobile Application Rating Scale). Aplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kemudahan dalam proses manajemen kesehatan diri pada pasien tuberkulosis, katanya.

Mahasiswa S1 Keperawatan FIKES UMM Gagas Mobile Game Berbasis Virtual Reality Untuk Program Rehabilitasi Ekstremitas Pasien Stroke

Mahasiswa S1 Keperawatan FIKES UMM Gagas Mobile Game Berbasis Virtual Reality Untuk Program Rehabilitasi Ekstremitas Pasien Stroke

Mobile game berbasis virtual reality untuk program rehabilitasi ekstremitas pasien stroke yang disingkat dengan Inovasi “GREATS” merupakan gagasan tertulis yang dirintis oleh mahasiswa keperawatan. Karya tulis tersebut mendapatkan juara 1 dalam Lomba karya tulis ilmiah CPR gen 3, Universitas Riau. Adapun mahasiswa yang ikut serta dalam kompetensi tersebut antara lain, Putri paramitha (leader) (angkatan 21) , saya Matsna Wilda Muqorona (angkatan 21) , dan Dinda Putri Savira (mahasiswa profesi ners). menurut Putri, selaku leader kelompok yang jadi juara ini menjelaskan bahwa literatur review dan data-data yang dipergunakan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini berasal dari website database jurnal yang dapat diakses secara bebas seperti, Science Direct, Proquest, dan Pubmed. Rentang waktu jurnal yang digunakan adalah 5 tahun terakhir (2018-2022). Jurnal juga dilakukan penelaian sumber data jurnal yang layak dengan kriteria serta dilakukan penilaian kualitas studi berdasarkan Scimago Journal Ranks. “rehabilitasi stroke inovasi Game Rehabilitasi diharapkan dapat membantu dalam mengembalikan kemampuan pasien stroke di Indonesia, maka dari itu penulis mengusulkan sebuah gagasan Game yang bernama “GREATS: Mobile Game Based Virtual Reality untuk Program Rehabilitasi Ekstremitas Pada Pasien Stroke” tambahnya Matsna juga menambahkan bahwa sistem rehabilitasi berbasis virtual reality cukup dikenal dan memiliki banyak kelebihan karena mudah digunakan dan diterapkan untuk memberikan pelatihan yang sesuai dengan kondisi pasien. Virtual reality (VR) berbasis game saat ini sering digunakan sebagai pendekatan terapeutik untuk rehabilitasi pasien stroke dan memberikan kesempatan bagi pasien untuk melakukan aktivitas yang sulit dalam pengaturan klinis. Selain itu, program VR sering dirancang untuk lebih menghibur dan menyenangkan daripada terapi rehabilitasi fisik tradisional, sehingga dapat mendorong pasien untuk lebih aktif berpartisipasi dalam program rehabilitasi, tandasnya

Peluang Kerja Lulusan Fikes UMM Semakin Luas dari Jepang, Kuwait, Hingga Jerman

Peluang Kerja Lulusan Fikes UMM Semakin Luas dari Jepang, Kuwait, Hingga Jerman

Peluang kerja alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini semakin luas. Jika sebelumnya mampu diterima di Jepang dan Kuwait, kini lulusannya dapat bekerja di Jerman. Dekan Fikes UMM, Yoyok Bekti Prasetyo yakin profesi kesehatan makin dibutuhkan di negara-negara maju. Hal itu disampaikan Yoyok usai acara International Talk bertajuk “Career Opportunities as a Professional Health Worker in Germany” di aula kampus II UMM, Senin (9/10/2023). Kegiatan ini mengungkap testimoni seorang, perawat di Jerman, Zarawanda Eldzikri didampingi suaminya Jann Meinhard Schröder. Zara yang asli Gresik dan merupakan lulusan MI Muhammadiyah Campurejo dan SMP Muhammadiyah 12 Ponpes al-Islah Paciran itu memaparkan bagaimana perjalanan sampai menjadi perawat psikiatri di Oldenburg Jerman. Penguasaan bahasa Jerman menjadi hal mutlak harus dikuasai sampai pada level sertifikat B2. Itulah sebabnya, sebelum ke Jerman ia menyiapkan diri sebaik mungkin untuk belajar bahasa. Dia bercerita sebelumnya sempat ikut SBMPTN dan diterima di Teknik Sipil ITS, tetapi tidak dia masuki. Dia juga ikut tes mengambil jurusan Pajak STAN mengikuti saran orang tua juga lulus tetapi tidak dijalani. “Saya terobsesi ingin ke luar negeri dan Jerman menjadi pilihan sejak dulu,” kata Zara. Selain ingin membantu pemerintah mengurangi pengangguran, Zara juga terobsesi dengan gaji yang fantastis ketika kerja di Jerman. Profesi perawat di negara tersebut sangat dihargai, bahkan diberi cukup waktu untuk cuti dan fasilitas asuransi. Cuti hamil dan melahirkan selama dua tahun pun tetap dibayar. Sementara itu, Jann menyatakan, Jerman kini sangat tergantung tenaga kerja asing karena secara demografis usia non-produktif mendominasi. Untuk itu, pemerintahnya memberikan kesempatan lebih luas kepada tenaga-tenaga terampil dari negara lain. Pemerintah memberikan kemudahan agar kemampuan pekerja dari luar negeri bisa bekerja di Jerman. Lulusan FIKES UMM hanya perlu belajar bahasa dan budaya kerja Jerman. Perbedaan cara pandang terhadap waktu, kedisplinan, pemisahan permasalahan publik dan privat, serta bagaimana bersikap formal di ruang kerja harus menjadi perhatian. “Tidak boleh bercanda ketika bekerja, apalagi sampai pacaran. Tapi di luar jam kerja, semua itu tidak dilarang,” jelasnya dalam keterangan resmi yang diterima Republika.  Fikes UMM telah memperoleh tawaran kerja sama dari Michels Kliniken, yakni sebuah konsorsium Rumah Sakit swasta besar di Jerman. Setelah melakukan pertemuan secara dari dengan Fikes UMM beberapa waktu lalu, pihak Michels kini menunggu kesiapan lulusan UMM mempersiapkan bahasa Jerman. Jann mengatakan jika kerja sama dengan Michels ini sukses, maka peluang rumah sakit lainnya yang juga akan ikut merekrut lulusan UMM makin terbuka. Hal ini diketahuinya setelah ia melaporkan hasil kunjungan ke Fikes UMM dan menjadi pembicara. Orang Jerman, kata dia, terkesan dengan tenaga kerja Indonesia yang dikenal ulet. Pengalaman merekrut perawat dari Filipina yang kurang bagus, membuat Michels Kliniken melirik Indonesia. Saat ini Michels sedang bekerja sama dengan Albania. Dengan Albania dan Filipina, klinik di Jerman bekerja sama secara business to business. Dengan UMM ini merupakan pengalaman pertama bekerja sama dengan universitas secara langsung. Oleh karena ini pengalaman pertama, maka perlu pembicaraan lebih lanjut terkait prosedur pengiriman tenaga kerja dari Indonesia ke Jerman. Sejauh ini pembicaraan Michels Kliniken melalui Zara yang ditunjuk sebagai penghubung menyatakan siap membantu Fikes UMM menyelenggarakan persiapan bahasa Jerman. Demikian pula visa dan persiapan predeparture lainnya

Jerman Lirik Alumni Fakultas Ilmu Kesehatan UMM

Peluang Kerja Lulusan Fikes UMM Semakin Luas dari Jepang, Kuwait, Hingga Jerman

Jerman lirik alumni Fakultas Ilmu Kesehatan UMM. Ini bukti peluang kerja alumni Fakultas Ilmu Kesehatan (Fikes) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kini semakin luas. Setelah sebelumnya bisa diterima di Jepang dan Kuwait, kini lulusannya bisa bekerja di Jerman. Dekan Fikes UMM, Dr Yoyok Bekti Prasetyo MKep Sp Kom, yakin ke depan profesi kesehatan makin dibutuhkan di negara-negara maju. Hal itu disampaikan Yoyok usai acara International Talk bertajuk Career Opportunities as a Professional Health Worker in Germany, di aula kampus II UMM, Senin (9/10/2023). Talkshow mengungkap testimoni seorang perawat di Jerman, Zarawanda Eldzikri didampingi suaminya Jann Meinhard Schröder. Diikuti lebih dari 200 mahasiswa secara luring dan ratusan alumni di layar daring, acara berlangsung menarik. Zara yang asli Gresik dan merupakan lulusan MI Muhammadiyah Campurejo dan SMP Muhammadiyah 12 Ponpes al-Islah Paciran itu memaparkan bagaimana perjalanan sampai menjadi perawat psikiatri di Oldenburg Jerman. Penguasaan bahasa Jerman menjadi hal mutlak harus dikuasai sampai pada level sertifikat B2. Itulah sebabnya, sebelum ke Jerman ia menyiapkan diri sebaik mungkin untuk belajar bahasa. “Saya ikut SBMPTN dan diterima di Teknik Sipil ITS, tidak saya masuki. Saya juga ikut tes STAN ambil jurusan Pajak mengikuti saran orangtua, juga lulus. Juga tidak saya jalani. Saya terobsesi ingin ke luar negeri dan Jerman menjadi pilihan sejak dulu,” kisah Zara yang menguasai Bahasa Arab dan Inggris selain Jerman itu. Selain ingin membantu pemerintah mengurangi pengangguran, Zara juga terobsesi dengan gaji yang fantastis ketika kerja di Jerman. “Di sana profesi sangat dihargai, diberi cukup waktu untuk cuti, fasilitas asuransi, bahkan cuti hamil dan melahirkan selama dua tahun tetap dibayar,” ungkap putri dari perawat senior Dzikrullah ini. Menurut Jann, Jerman kini sangat tergantung tenaga kerja asing karena secara demografis usia non-produktif mendominasi. Untuk itu pemerintahnya memberikan kesempatan lebih luas kepada tenaga-tenaga terampil dari negara lain. “Pemerintah memberikan kemudahan agar skilled worker dari luar negeri bisa bekerja di Jerman,” ujarnya. Lulusan Fikes UMM hanya perlu belajar bahasa dan budaya kerja Jerman, kata Jann. Perbedaan cara pandang terhadap waktu, kedisplinan, pemisahan permasalahan publik dan privat, serta bagaimana bersikap formal di ruang kerja, harus menjadi perhatian. “Tidak boleh bercanda ketika bekerja, apalagi sampai pacaran,” katanya. Tapi di luar jam kerja, semua itu tidak dilarang. Fikes UMM telah memperoleh tawaran kerja sama dari Michels Kliniken, sebuah konsorsium rumah sakit swasta besar di Jerman. Setelah melakukan pertemuan secara online dengan Fikes UMM beberapa waktu lalu, pihak Michels kini menunggu kesiapan lulusan UMM mempersiapkan bahasa Jerman. Jann mengatakan jika kerja sama dengan Michels ini sukses, maka peluang rumah sakit lainnya yang juga akan ikut merekrut lulusan UMM makin terbuka. Hal ini diketahuinya setelah ia melaporkan hasil kunjungan ke Fikes UMM dan menjadi pembicara. “Orang Jerman terkesan dengan tenaga kerja Indonesia yang dikenal ulet dan pekerja keras,” kata Jann. Pengalaman merekrut perawat dari Filipina yang kurang bagus, membuat Michels Kliniken melirik Indonesia. Saat ini Michels sedang bekerja sama dengan Albania. Dengan Albania dan Filipina, klinik di Jerman bekerja sama secara business to business. Dengan UMM ini merupakan pengalaman pertama bekerja sama dengan universitas secara langsung. “Oleh karena ini pengalaman pertama maka perlu pembicaraan lebih lanjut terkait prosedur pengiriman tenaga kerja dari Indonesia ke Jerman,” lanjut Jann. Sejauh ini pembicaraan Michels Kliniken melalui Zara yang ditunjuk sebagai penghubung menyatakan siap membantu Fikes UMM menyelenggarakan persiapan bahasa Jerman. Demikian pula visa dan persiapan predeparture lainnya. Talkshow ini membuat ratusan mahasiswa Fikes yang mau lulus dari berbagai program studi antusias. Mereka berasal dari S1 Keperawatan, S1 Farmasi, S1 Fisioterapi, Profesi Ners, Profesi Apoteker dan Profesi Fisioterapis. Zidan, salah seorang mahasiswa menyatakan tertarik dan ingin kerja sambil studi. Ditanya kemungkinan tersbut, Zara menjawab pengalaman dirinya kuliah sambal kerja justru dibayar lebih. Sebab bagi Jerman bekerja adalah satu hal, sedangkan belajar adalah hal lain untuk meningkatkan pengetahuan dan skill yang akan memberi keuntungan bagi employee. “Kerja sama dengan Jerman ini merupakan manifestasi rekognisi internasional kepada Fikes UMM,” kata Yoyok