Mengungkap Kebutuhan Family Caregiver dalam Perawatan Pasien Stroke: Studi Mendalam oleh Anis Ika Nur Rohman

Malang – Sroke merupakan salah satu penyakit yang tidak hanya membawa dampak besar bagi penderitanya, tetapi juga bagi orang-orang terdekat yang terlibat langsung dalam proses perawatan. Family caregiver, atau anggota keluarga yang bertanggung jawab merawat pasien stroke, memegang peran krusial dalam mendukung pemulihan pasien. Namun, peran ini sering kali datang tanpa persiapan yang memadai, sehingga menimbulkan berbagai tantangan fisik, emosional, dan sosial. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Anis Ika Nur Rohman, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), ditemukan bahwa family caregiver memiliki berbagai kebutuhan yang belum terpenuhi dalam menjalankan perannya. “Banyak family caregiver yang merasa tidak cukup siap saat harus merawat anggota keluarga yang menderita stroke. Mereka sering menghadapi kendala dalam mendapatkan informasi yang relevan, dukungan profesional, dan jaringan komunitas,” jelas Anis. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik caregiver pasien stroke di Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen, Malang, dengan melibatkan 62 responden. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kebutuhan informasi kesehatan menjadi prioritas utama bagi 89,96% caregiver. “Mereka membutuhkan pemahaman yang lebih baik tentang kondisi stroke, cara merawat pasien, serta langkah-langkah pencegahan komplikasi. Ini menunjukkan adanya kesenjangan dalam edukasi yang diberikan oleh fasilitas kesehatan,” tambah Anis. Selain itu, dukungan profesional juga menjadi kebutuhan penting, di mana 88,30% responden mengharapkan bimbingan langsung dari dokter, perawat, atau terapis. “Caregiver merasa lebih percaya diri ketika mendapatkan panduan yang jelas dari tenaga medis. Hal ini juga membantu mereka dalam menghadapi situasi darurat atau komplikasi yang mungkin terjadi,” ujarnya. Dukungan komunitas, yang mencakup kelompok pendukung dan jaringan sosial, dinilai penting oleh 87,30% responden. “Peran komunitas sangat besar, terutama dalam memberikan ruang bagi caregiver untuk berbagi pengalaman dan mendapatkan motivasi,” terang Anis. Pada aspek emosional, sebanyak 80,19% responden merasa membutuhkan dukungan moral. “Merawat pasien stroke sering kali menjadi beban emosional yang berat. Dukungan dari keluarga, teman, atau bahkan tenaga profesional sangat diperlukan untuk menjaga kesehatan mental mereka,” ungkapnya. Dukungan lain yang tak kalah penting adalah keterlibatan dalam pengambilan keputusan perawatan (78,71%) dan bantuan instrumental seperti fasilitas dan logistik (66,49%). “Caregiver ingin merasa dilibatkan dalam proses perawatan, karena mereka adalah orang yang paling dekat dengan pasien. Di sisi lain, kebutuhan instrumental juga menjadi tantangan, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi,” kata Anis. Penelitian ini menegaskan bahwa peran family caregiver tidak hanya membutuhkan dedikasi, tetapi juga dukungan menyeluruh dari berbagai pihak. “Kita harus mulai melihat caregiver sebagai bagian dari sistem perawatan kesehatan yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Program pelatihan, jaringan komunitas, dan kebijakan pendukung harus menjadi prioritas untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” tutup Anis. Hasil penelitian ini memberikan landasan penting bagi rumah sakit, tenaga medis, dan pembuat kebijakan untuk merancang strategi yang lebih efektif dalam mendukung caregiver. Dengan memenuhi kebutuhan mereka, kualitas perawatan pasien stroke dapat meningkat, sekaligus menjaga keseimbangan fisik dan emosional para caregiver sebagai tulang punggung dalam perawatan pasien Hasil penelitian ini memberikan landasan penting bagi rumah sakit, tenaga medis, dan pembuat kebijakan untuk merancang strategi yang lebih efektif dalam mendukung caregiver. Dengan memenuhi kebutuhan mereka, kualitas perawatan pasien stroke dapat meningkat, sekaligus menjaga keseimbangan fisik dan emosional para caregiver sebagai tulang punggung dalam perawatan pasien.
Program UKS untuk Meningkatkan Kesehatan Anak di Sekolah melalui Gizi Seimbang dan Screening Kesehatan

Di tengah peran penting pendidikan untuk masa depan anak, kesehatan juga menjadi faktor yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Hal ini disadari oleh Edi Purwanto, seorang dosen Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang, bersama rekannya yaitu Indah Dwi Pratiwi, Anggi Nur Azizah, serta Mohammad Refanza Eka Wijaya yang mengadakan penelitian untuk menilai dan mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup anak-anak di sekolah. Fokus utama penelitian ini adalah perilaku konsumsi makanan anak, perilaku hidup bersih dan sehat, serta kesehatan lingkungan sekolah. Dalam riset ini, Purwanto dan timnya menemukan bahwa makan yang sehat sangat berperan penting dalam mendukung kesehatan tubuh, sementara makanan yang tidak sehat dapat menjadi sumber berbagai penyakit, yang tentu saja memengaruhi kualitas belajar dan tumbuh kembang anak. Kesehatan lingkungan sekolah juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari program UKS ini. Lingkungan sekolah yang sehat dan nyaman dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak dalam melaksanakan aktivitas belajar, baik di dalam kelas maupun di luar kelas. Sekolah yang memiliki lingkungan yang bersih dan sehat mendukung fokus dan kenyamanan anak-anak dalam menyerap pelajaran. Oleh karena itu, program ini tidak hanya menekankan pada konsumsi makanan sehat, tetapi juga pada kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah yang mendukung proses belajar yang efektif dan menyenangkan. Untuk mencapai tujuan tersebut, kegiatan pengabdian yang dilakukan oleh Purwanto dan tim memiliki beberapa langkah konkret. Salah satu metode yang digunakan adalah Focus Group Discussion (FGD), yang melibatkan orangtua dan guru dari TK ABA 37 Kota Malang. Melalui diskusi ini, para orangtua dan guru diajak untuk memahami lebih dalam tentang pentingnya gizi seimbang dalam pola makan anak-anak dan bagaimana cara menyusun menu yang sehat untuk anak-anak sekolah. Selain itu, seminar juga menjadi sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya screening kesehatan secara berkala pada anak, sehingga deteksi dini terhadap masalah kesehatan bisa segera dilakukan. Praktik pembuatan menu makanan sehat juga dilaksanakan untuk menunjukkan secara langsung kepada para orangtua dan guru bagaimana cara menyusun makanan dengan kandungan gizi yang seimbang. Dalam kegiatan ini, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dan berperan aktif selama seminar, diskusi, dan praktik. Mereka tidak hanya mendengarkan teori, tetapi juga terlibat langsung dalam menyusun menu makanan sehat untuk anak-anak. Hal ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi orangtua dan guru untuk menerapkan pola makan sehat di rumah dan sekolah, serta menjaga kesehatan secara keseluruhan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pengabdian masyarakat ini sangat menggembirakan. Terdapat peningkatan signifikan dalam pemahaman orangtua dan guru tentang pentingnya gizi seimbang dalam perkembangan anak. Selain itu, kesadaran akan pentingnya melakukan screening kesehatan secara berkala juga meningkat, yang berpotensi untuk mendeteksi dini masalah kesehatan anak sebelum berkembang menjadi lebih serius. Para peserta kegiatan sangat antusias dan aktif berpartisipasi, menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga kesehatan anak-anak mereka. Melalui kegiatan ini, Purwanto dan tim berharap agar derajat kesehatan anak-anak di sekolah dapat meningkat dengan adanya pemenuhan gizi yang seimbang dan dilakukan secara rutin screening kesehatan berkala. Dengan langkah-langkah konkret dan kolaborasi antara orangtua, guru, dan masyarakat, program UKS diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Kesehatan yang baik akan menjadi pondasi yang kuat bagi anak-anak dalam menghadapi proses pembelajaran, dan pada akhirnya mendukung masa depan mereka yang lebih cerah. Disusun oleh Silvia Anggraini Fitriyani (202310420311125). Mahasiswi program studi ilmu keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, sebagai bentuk penugasan mata kuliah “Sistem Teknologi Informasi Keperawatan”, dengan Zaqqi Ubaidillah, S.Kep., Ns., M.Kep. Sp. Kep. MB. selaku dosen pengampu mata kuliah.