Penelitian Dosen dari FIKES UMM Ungkap Resiko Tinggi Restless Legh Syndrome (RLS) pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis

Malang— Ibu Nur Aini, dosen Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), telah melakukan penelitian penting yang mengungkapkan hubungan signifikan antara sindrom kaki gelisah (Restless Legs Syndrome/RLS) dengan penyakit ginjal kronis (Chronic Kidney Disease/CKD). Penelitian ini membawa perhatian pada masalah kesehatan yang sering kali terabaikan tetapi memiliki dampak besar terhadap kualitas hidup pasien. RLS adalah gangguan tidur yang ditandai dengan sensasi tidak nyaman pada tungkai bawah saat malam hari, yang sering memaksa penderitanya untuk menggerakkan kaki untuk meredakan gejala. Gangguan ini menjadi penyebab utama keempat insomnia, tetapi sering kali tidak terdiagnosis, sehingga memperburuk kondisi kesehatan pasien. Menurut Nur Aini, gejala RLS jauh lebih sering ditemukan pada pasien CKD dibandingkan dengan populasi umum. Untuk itu, ia bersama timnya melakukan meta-analisis pertama yang dirancang khusus untuk memperkirakan risiko RLS di antara pasien CKD. Penelitian yang digunakan melibatkan pencarian literatur yang luas di enam basis data internasional terkemuka, yaitu Embase, Ovid-MEDLINE, PubMed, Scopus, Web of Science, dan CINAHL. Dari total 1.175 penelitian yang dievaluasi, sembilan studi dengan total 18.983 partisipan dipilih untuk dianalisis lebih lanjut. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Comprehensive Meta-Analysis (CMA) dengan model random-effect untuk mendapatkan estimasi risiko gabungan. Kualitas penelitian diukur dengan Skala Newcastle-Ottawa, sementara heterogenitas diuji menggunakan uji I2 dan statistik Cochran Q. Temuan pada penelitian ini menunjukkan bahwa pasien CKD memiliki risiko enam kali lipat lebih tinggi untuk mengalami RLS dibandingkan populasi umum, dengan odds ratio (OR) gabungan sebesar 5,64 (95%CI 2,70–11,78). Hasil ini menyoroti urgensi penanganan RLS pada pasien CKD sebagai bagian integral dari perawatan mereka. Ibu Nur Aini juga menggunakan Skala Newcastle–Ottawa untuk menilai kualitas penelitian yang dianalisis, memastikan bahwa temuan ini memiliki validitas dan reliabilitas yang kuat. Penelitian ini menegaskan perlunya peningkatan kesadaran di kalangan profesional kesehatan terkait deteksi dini dan penanganan RLS pada pasien penyakit ginjal kronis. “Temuan kami menunjukkan bahwa gangguan ini tidak hanya memperburuk kualitas tidur pasien, tetapi juga memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk mematuhi pengobatan, menjalani gaya hidup sehat, dan secara rutin memantau kondisi mereka,” ujar Nur Aini. Dalam penelitian ini, Ibu Nur Aini dan timnya juga menemukan bahwa faktor-faktor seperti indeks massa tubuh (IMT) yang lebih tinggi dan hasil laboratorium yang tidak normal, seperti kadar zat besi dan fosfor, berpotensi meningkatkan risiko RLS. Namun, analisis statistik untuk faktor-faktor ini belum menunjukkan signifikansi yang cukup kuat, sehingga memerlukan studi lebih lanjut untuk validasi. Selain itu, penelitian ini menunjukkan adanya heterogenitas dalam hasil, yang disebabkan oleh perbedaan karakteristik populasi dan metode yang digunakan dalam studi-studi sebelumnya. Meski demikian, temuan ini tetap memberikan gambaran yang jelas tentang tingginya risiko RLS pada pasien CKD, sekaligus menggarisbawahi perlunya pendekatan multidisiplin dalam menangani kondisi ini. Ibu Nur Aini merekomendasikan agar profesional kesehatan lebih proaktif dalam mendeteksi dini dan mengelola RLS pada pasien CKD. “RLS tidak hanya berdampak pada kualitas tidur, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan psikologis dan fisik pasien secara keseluruhan. Oleh karena itu, pendekatan komprehensif sangat diperlukan,” ujarnya. Beliau juga menekankan pentingnya gaya hidup sehat dan kepatuhan terhadap pengobatan untuk mengurangi risiko dan gejala RLS. “Pasien perlu mendapatkan edukasi tentang pentingnya pola makan yang tepat, olahraga yang sesuai, dan pengelolaan stres. Semua ini akan membantu mereka meningkatkan kualitas hidup,” tambahnya. Ke depan, Ibu Nur Aini berharap lebih banyak penelitian dilakukan untuk mengembangkan intervensi yang lebih efektif dalam mengurangi gejala RLS, termasuk eksplorasi terapi berbasis farmakologis dan non-farmakologis. Kolaborasi antara dokter, perawat, ahli gizi, dan peneliti juga dianggap krusial untuk menciptakan solusi holistik yang mendukung pasien CKD dalam menghadapi tantangan ini. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi besar bagi literatur ilmiah, tetapi juga memiliki implikasi praktis yang luas dalam dunia medis. Temuan Ibu Nur Aini menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran tentang RLS sebagai masalah kesehatan yang signifikan di kalangan pasien CKD, serta mendorong pengembangan strategi perawatan yang lebih baik di masa depan. Melalui dedikasinya, Ibu Nur Aini kembali mengukuhkan peran Universitas Muhammadiyah Malang dalam menghasilkan riset-riset unggulan yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat luas, khususnya dalam menangani penyakit-penyakit kronis yang kompleks.
Validitas Struktural dan Konsistensi Internal Skala Hidup Harga Diri Rosenberg pada Pasien Skizofernia di Indonesia

Validitas Struktural dan Konsistensi Internal Skala Harga Diri Rosenberg pada Pasien Skizofrenia di Indonesia: Penelitian oleh Muhammad Muslih, Dosen Keperawatan FIKES UMM Malang, Indonesia — Dalam upaya untuk lebih memahami bagaimana cara yang tepat mengukur harga diri pada pasien dengan gangguan jiwa, Muhammad Muslih, dosen Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), telah melakukan penelitian yang menguji validitas struktural dari Skala Harga Diri Rosenberg (RSES) pada pasien skizofrenia di Indonesia. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi dunia keperawatan dan psikiatri di Indonesia dengan mengungkapkan seberapa andal dan validkah RSES untuk digunakan dalam mengukur harga diri pada individu yang didiagnosis dengan skizofrenia. Skala Harga Diri Rosenberg (RSES) adalah instrumen yang paling umum digunakan untuk mengukur harga diri, baik pada populasi umum maupun pada mereka yang memiliki gangguan mental. Meskipun RSES banyak digunakan dalam berbagai penelitian, validitas struktural skala ini untuk pasien dengan skizofrenia di Indonesia masih terbatas. Validitas struktural merujuk pada sejauh mana instrumen tersebut mengukur apa yang dimaksudkan untuk diukur, dalam hal ini, harga diri pada pasien skizofrenia. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kekosongan dalam literatur dengan menguji validitas struktural RSES di Indonesia, serta menilai konsistensi internal dan reliabilitasnya pada populasi pasien skizofrenia. RSES sendiri dirancang untuk mengukur dimensi positif dan negatif dari harga diri, namun sejauh mana kedua dimensi ini dapat diukur dengan akurat pada pasien skizofrenia menjadi fokus utama penelitian ini. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menguji validitas struktural RSES sebagai alat ukur harga diri pada pasien skizofrenia di Indonesia, menggunakan metode analisis faktor konfirmatori (CFA). Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi internal dan reliabilitas instrumen tersebut. Penelitian ini melibatkan 260 peserta yang telah didiagnosis dengan skizofrenia. Para peserta ini berasal dari berbagai rumah sakit dan pusat rehabilitasi jiwa di Indonesia. Selain itu, dalam rangka menguji reliabilitas tes-retest, 30 subjek tambahan dimasukkan setelah dua minggu untuk menilai stabilitas hasil pengukuran dalam jangka waktu tertentu. Untuk menguji validitas struktural, peneliti menggunakan analisis faktor konfirmatori (CFA), yang digunakan untuk menilai sejauh mana model yang diajukan dapat memadai untuk data yang ada. Selain itu, reliabilitas diukur dengan menggunakan koefisien konsistensi internal, yaitu Alpha Ordinal. Penelitian ini menganalisis empat model berbeda terkait dengan struktur faktor RSES. Model pertama yang diuji adalah model satu faktor (Model 1a), namun hasilnya menunjukkan bahwa kriteria kesesuaian model tersebut tidak memadai. Setelah dilakukan modifikasi terhadap beberapa indeks, model ini (Model 1b) menunjukkan hasil yang lebih memadai, dengan semua kriteria kesesuaian yang signifikan. Selanjutnya, dua model lain yang diuji adalah model dua faktor (Model 2) dan model hierarkis (Model 3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua model ini juga menunjukkan kesesuaian yang memadai, yang mengindikasikan bahwa baik model dua faktor maupun model hierarkis dapat diterima untuk mengukur harga diri pada pasien skizofrenia. Dalam hal reliabilitas, hasil penelitian menunjukkan bahwa RSES memiliki koefisien Alpha Ordinal sebesar 0,75, yang menunjukkan konsistensi internal yang baik. Selain itu, subskala harga diri positif dan negatif masing-masing memiliki koefisien Alpha sebesar 0,89 dan 0,88, yang juga menunjukkan tingkat reliabilitas yang sangat baik. Penelitian ini juga menemukan bahwa reliabilitas tes-retest berada pada tingkat yang sangat baik, dengan koefisien korelasi interkelas (ICC) yang berkisar antara 0,87 hingga 0,93, menunjukkan bahwa hasil pengukuran RSES dapat diandalkan dalam periode waktu tertentu. Penelitian ini memberikan bukti kuat yang mendukung validitas struktural, konsistensi internal, dan reliabilitas dari Skala Harga Diri Rosenberg (RSES) pada pasien skizofrenia di Indonesia. Temuan ini menunjukkan bahwa RSES, baik dengan model dua faktor maupun model hierarkis, dapat digunakan secara efektif untuk mengukur harga diri pada individu dengan gangguan skizofrenia. Muhammad Muslih, yang memimpin penelitian ini, menyatakan bahwa hasil ini sangat penting dalam konteks praktik keperawatan dan psikiatri di Indonesia. “Skizofrenia sering kali mempengaruhi persepsi individu terhadap diri mereka sendiri. Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel seperti RSES, para profesional kesehatan mental dapat lebih mudah menilai harga diri pasien dan merencanakan intervensi yang lebih tepat,” ujar Muslih. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan RSES dapat memberikan manfaat besar dalam mengukur dan menilai harga diri pasien skizofrenia, yang merupakan salah satu aspek penting dalam pemulihan dan perawatan mereka. Temuan ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut yang dapat mengeksplorasi faktor-faktor lain yang mempengaruhi harga diri pada pasien dengan gangguan mental di Indonesia. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan oleh para profesional kesehatan, terutama di bidang keperawatan dan psikiatri, untuk meningkatkan pendekatan mereka dalam merawat pasien skizofrenia. Dengan adanya alat ukur yang terbukti valid dan reliabel seperti RSES, diharapkan penilaian harga diri pasien dapat dilakukan dengan lebih akurat, sehingga dapat membantu dalam merancang terapi dan intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Dalam konteks yang lebih luas, penelitian ini juga menunjukkan pentingnya penyesuaian instrumen pengukuran internasional untuk konteks budaya Indonesia, yang memiliki karakteristik sosial dan budaya yang unik dalam memandang kesehatan mental.