Edukasi bahaya merokok di kalangan remaja malang

Edukasi Bahaya merokok dikalangan remaja Malang

Henik Tri Rahayu, Anis Ika Nur Rohmah, Revha Salsabila, Virgiea Jasmine, dan Wafa Al Mufida menyoroti peningkatan prevalensi perilaku merokok di kalangan remaja Indonesia, yang menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular (NCD) seperti penyakit paru obstruktif menahun (COPD), jantung, dan hipertensi. Kebiasaan merokok pada remaja sering kali didorong oleh pencarian jati diri, pengaruh teman sebaya, serta keinginan untuk terlihat keren. Namun, toleransi masyarakat terhadap perilaku ini memperparah situasi. Sebagai langkah pencegahan, program pengabdian masyarakat dilaksanakan pada Oktober 2023 di sebuah SMP swasta di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan siswa tentang bahaya merokok dan memotivasi remaja perokok untuk berhenti. Metode yang digunakan meliputi edukasi kesehatan dan konseling. Hasil program menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terkait dampak merokok serta kesadaran diri untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah menciptakan potensi besar dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan di tingkat remaja sekolah, sekaligus memberi mahasiswa pengalaman langsung dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat  

Terobosan Baru Penderita Skizofrenia

Penderita skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran kini memiliki harapan baru melalui pendekatan Qur'anic Healing. Sebuah inovasi yang diperkenalkan oleh para dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): T. Muhammad Rosyidul Ibad, Febry Syaren Alfianti, Muhammad Ari Arfianto, Tutu April Ariani, dan Zahid Fikri, berhasil membuktikan bahwa terapi berbasis spiritual ini dapat memberikan dampak positif pada kesejahteraan pasien.

Terobosan Baru untuk Penderita Skizofrenia: Qur’anic Healing Bantu Kurangi Halusinasi Pendengaran Malang — Penderita skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran kini memiliki harapan baru melalui pendekatan Qur’anic Healing. Sebuah inovasi yang diperkenalkan oleh para dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): T. Muhammad Rosyidul Ibad, Febry Syaren Alfianti, Muhammad Ari Arfianto, Tutu April Ariani, dan Zahid Fikri, berhasil membuktikan bahwa terapi berbasis spiritual ini dapat memberikan dampak positif pada kesejahteraan pasien. Penderita skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran kini memiliki harapan baru melalui pendekatan Qur’anic Healing. Sebuah inovasi yang diperkenalkan oleh para dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM): T. Muhammad Rosyidul Ibad, Febry Syaren Alfianti, Muhammad Ari Arfianto, Tutu April Ariani, dan Zahid Fikri, berhasil membuktikan bahwa terapi berbasis spiritual ini dapat memberikan dampak positif pada kesejahteraan pasien. Halusinasi pendengaran kerap menjadi tantangan berat bagi penderita skizofrenia. Selain mengurangi produktivitas, kondisi ini juga memengaruhi kemampuan mereka untuk berinteraksi dengan lingkungan. Namun, Qur’anic Healing menawarkan pendekatan yang berpusat pada nilai-nilai agama Islam untuk membantu pasien mengelola gejala tersebut secara mandiri. Bacaan Al-Qur’an untuk Ketentraman Jiwa Menurut Muhammad Rosyidul Ibad, Qur’anic Healing melibatkan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai metode untuk memberikan ketenangan jiwa dan meredakan gejala halusinasi. “Pasien mendengarkan bacaan Al-Qur’an yang dipilih dengan cermat untuk menciptakan suasana hati yang damai dan menenangkan pikiran mereka,” jelasnya. Muhammad Ari Arfianto menambahkan bahwa pendekatan ini tidak hanya membantu pasien secara psikologis, tetapi juga membangun hubungan spiritual yang lebih mendalam. “Ketika pasien mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, mereka merasa lebih dekat dengan Tuhan. Hal ini membantu mereka untuk fokus dan mengurangi intensitas halusinasi pendengaran yang mengganggu,” katanya. Hasil Positif dari Qur’anic Healing. Terapi Qur’anic Healing telah diujikan pada 35 pasien skizofrenia yang mengalami halusinasi pendengaran. Pasien yang dilibatkan adalah mereka yang memiliki diagnosis skizofrenia, mampu berpikir koheren, bersikap kooperatif, dan memiliki latar belakang keyakinan Islam. “Setelah menjalani terapi, banyak pasien melaporkan bahwa frekuensi halusinasi pendengaran mereka berkurang. Mereka merasa lebih tenang dan mampu mengendalikan pikiran mereka dengan lebih baik,” ungkap Febry Syaren Alfianti. Tutu April Ariani juga menekankan manfaat terapi ini untuk kesejahteraan pasien secara keseluruhan. “Terapi ini membantu mereka mengembangkan mekanisme koping yang lebih sehat dan produktif, yang pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup mereka,” ujarnya. Dukungan untuk Penerapan Lebih Luas. Zahid Fikri menyatakan bahwa Qur’anic Healing dapat menjadi pendukung penting dalam terapi skizofrenia. “Kami tidak mengesampingkan pengobatan medis, tetapi Qur’anic Healing bisa menjadi terapi tambahan yang mendukung pengobatan utama. Hasilnya sudah terbukti efektif dalam mengurangi gejala halusinasi pendengaran,” jelasnya. Para dosen ini berharap pendekatan Qur’anic Healing dapat diterapkan lebih luas di fasilitas kesehatan mental di Indonesia. “Kami ingin ini menjadi salah satu cara untuk membantu pasien skizofrenia, terutama yang merasa nyaman dengan pendekatan spiritual,” kata Muhammad Rosyidul Ibad. Keberhasilan awal ini menjadi dorongan bagi tim dosen UMM untuk terus mengembangkan terapi Qur’anic Healing. “Kami ingin memastikan terapi ini dapat diakses oleh masyarakat luas, terutama bagi pasien yang membutuhkan pendekatan alternatif yang lebih personal,” tutup Febry Syaren Alfianti. Dengan Qur’anic Healing, pasien skizofrenia kini memiliki peluang baru untuk menjalani hidup yang lebih sehat, tenang, dan produktif. Pendekatan berbasis spiritual ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai agama dapat berperan penting dalam mendukung kesehatan mental.

Manfaat Latihan ROM untuk pasien stroke: Cerita dari para ahli keperawatan UMM

Manfaat Latihan ROM untuk pasien stroke: Cerita dari para ahli keperawatan UMM

Manfaat Latihan ROM untuk Pasien Stroke: Cerita dari Para Ahli Keperawatan UMM Malang — Stroke atau yang dikenal sebagai CVA (Cerebrovascular Accident) adalah salah satu kondisi medis yang sering kali menjadi momok bagi banyak orang. Salah satu komplikasi yang sering terjadi pada pasien stroke adalah hemiparalisis, yaitu kelumpuhan sebagian tubuh yang menyebabkan gangguan mobilitas fisik. Namun, ada kabar baik bagi para pasien stroke. Latihan ROM (Range of Motion) terbukti efektif membantu pasien stroke dalam memulihkan kekuatan otot dan meningkatkan kemampuan aktivitas sehari-hari. Tiga dosen keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu Lilis Setyowati Elma, Erma Wahyu Mashfufa, dan Ollyvia Freeska Dwi Marta Nur Aini, berbagi wawasan mereka mengenai manfaat latihan ROM berdasarkan penelitian yang telah mereka lakukan. Mereka menjelaskan bahwa latihan ROM adalah teknik sederhana yang dapat dilakukan pasien untuk menjaga dan meningkatkan mobilitas sendi, bahkan saat masih berada di rumah sakit. “Latihan ROM ini sangat penting, terutama bagi pasien stroke yang mengalami serangan pertama. Dalam penelitian kami, pasien diberikan latihan ROM selama empat hari berturut-turut, masing-masing dua kali sehari selama 15 menit,” ungkap Lilis Setyowati Elma. Hasilnya cukup menggembirakan. Menurut Erma Wahyu Mashfufa, kekuatan otot pasien yang awalnya hanya berada di level 2 meningkat menjadi level 3 setelah menjalani latihan ini. “Pasien yang sebelumnya bergantung pada orang lain untuk melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan dan berpakaian, mulai menunjukkan kemandirian,” tambahnya. Namun, keberhasilan latihan ROM ini tidak hanya bergantung pada teknik yang dilakukan. Ollyvia Freeska Dwi Marta Nur Aini menekankan pentingnya dukungan keluarga dan kondisi emosional pasien. “Keluarga yang mendukung dan memberikan semangat kepada pasien memiliki peran besar dalam proses pemulihan. Selain itu, menjaga suasana hati pasien tetap positif juga membantu mempercepat hasil yang diharapkan,” jelasnya. Ketiga dosen ini sepakat bahwa latihan ROM sebaiknya dimulai sesegera mungkin, bahkan saat pasien masih dirawat di rumah sakit. “Semakin cepat latihan ini dilakukan, semakin besar peluang pasien untuk pulih lebih cepat,” ujar Lilis. Selain itu, mereka juga mengingatkan bahwa latihan ini harus dilakukan dengan panduan yang benar agar tidak menyebabkan cedera tambahan. Oleh karena itu, peran perawat dan tenaga medis sangat penting dalam memberikan edukasi kepada pasien dan keluarganya. Penelitian yang dilakukan oleh para dosen UMM ini memberikan harapan baru bagi pasien stroke dan keluarganya. Dengan latihan yang sederhana, dukungan keluarga, dan semangat yang kuat, pasien stroke dapat kembali menjalani hidup dengan lebih mandiri. Jadi, jika Anda atau keluarga Anda menghadapi kondisi serupa, jangan ragu untuk mencoba latihan ROM ini. Dengan bimbingan yang tepat, kesembuhan bukanlah hal yang mustahil.

Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis Mahasiswa Keperawatan Lewat Pembelajaran Kooperatif STAD

Di dunia pendidikan, salah satu tujuan utama adalah untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa, khususnya dalam menghadapi tantangan pembelajaran yang kompleks. Salah satu cara yang efektif untuk mencapainya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang melibatkan interaksi aktif antar mahasiswa. Model yang satu ini dikenal dengan nama STAD (Student Teams Achievement Divisions) yang diterapkan oleh Tutu April Ariani, S.Kp., M.Kes., seorang dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam rangka meningkatkan pemahaman mahasiswa di Program Studi S1 Keperawatan FIKES UMM. Tutu April Ariani menjelaskan bahwa tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengoptimalkan pemahaman mahasiswa melalui pembelajaran kooperatif dengan model STAD. Dalam penelitian ini, metode STAD digunakan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis mahasiswa, dengan cara membiasakan mereka bekerja sama dalam kelompok untuk memecahkan soal-soal yang diberikan. “Pembelajaran STAD ini menekankan kerja sama antar mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar materi sendiri-sendiri, tapi juga harus saling berdiskusi, berbagi pendapat, dan menyelesaikan masalah secara kelompok,” ujar Tutu. Metode STAD ini, menurut Tutu, dirancang agar mahasiswa lebih aktif dalam berinteraksi satu sama lain. Mereka akan saling berbagi ide, mengajukan pertanyaan, memperhatikan pertanyaan teman, memberikan tanggapan, dan bahkan bisa menengahi jika ada ketidakpahaman dalam kelompok. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa secara keseluruhan, serta melatih mereka dalam berpikir kritis dan menyelesaikan masalah yang ada. Dalam pelaksanaannya, penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindak Kelas (Classroom Action Research atau CAR). Penelitian ini dilakukan di kelas A Program Studi S1 Keperawatan FIKES UMM dengan jumlah mahasiswa 48 orang. Ada beberapa hal yang diamati selama pelaksanaan STAD, seperti kerja sama dalam kelompok, kemampuan mahasiswa dalam memberikan ide, menyimpulkan materi, hingga kemampuan mereka dalam menyelesaikan konflik jika ada ketidakpahaman antar teman satu kelompok. Proses penelitian ini dilakukan dalam dua siklus, di mana tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada siklus pertama, hasil ujian menunjukkan bahwa 55,56% mahasiswa memiliki kompetensi kurang dengan nilai di bawah 80, sementara 44,44% berhasil mencapai nilai di atas 80. Berdasarkan hasil observasi pada siklus pertama, Tutu melakukan refleksi dan perbaikan untuk siklus kedua. Pada siklus kedua, hasil ujian menunjukkan perbaikan signifikan, di mana hanya 11,11% mahasiswa yang masih memiliki kompetensi kurang, sementara 88,89% mahasiswa sudah memperoleh nilai di atas 80. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa model STAD dapat membantu mahasiswa untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan, serta memfasilitasi mereka dalam menyelesaikan masalah secara kelompok. Dengan pembelajaran kooperatif seperti ini, mahasiswa tidak hanya belajar secara mandiri, tetapi juga mampu bekerja sama untuk memecahkan masalah dan menyusun pemahaman bersama. “Saya yakin bahwa pembelajaran STAD ini sangat bermanfaat, bukan hanya di mata kuliah keperawatan, tapi juga di mata kuliah lainnya. Karena dengan cara ini, mahasiswa bisa lebih memahami materi secara mendalam, serta melatih kemampuan berpikir kritis mereka,” tambah Tutu. Tentu saja, penggunaan metode STAD tidak hanya berlaku di Program Studi S1 Keperawatan saja. Menurut Tutu, model ini sebaiknya diterapkan pada mata kuliah lainnya di berbagai disiplin ilmu. Sebab, dengan kerja sama yang baik dan pembelajaran yang lebih interaktif, mahasiswa akan terbiasa menghadapi tantangan, meningkatkan kompetensi mereka, serta siap menghadapi dunia kerja yang membutuhkan keterampilan berpikir kritis dan penyelesaian masalah secara tim. “STAD tidak hanya membentuk kemampuan akademik, tapi juga mengajarkan mahasiswa untuk lebih peduli terhadap teman-teman mereka. Semua ini merupakan langkah penting dalam menciptakan pembelajaran yang lebih berkualitas,” tutup Tutu, dengan penuh semangat.