Remaja Putri Kini Bisa Deteksi Sindrom Pra-Menstruasi Lebih Mudah: DRSP Versi Indonesia Resmi Divalidasi

Malang – Pernahkah Anda mendengar tentang remaja putri yang sering murung, sakit perut, atau cepat marah menjelang menstruasi? Bisa jadi mereka mengalami Premenstrual Syndrome (PMS) atau sindrom pramenstruasi, kondisi yang umum tapi sering tidak terdeteksi. Kini, berkat penelitian terbaru, remaja putri Indonesia punya alat bantu baru untuk mengenali kondisi ini secara mandiri—yaitu Daily Record of Severity of Problems (DRSP) versi Bahasa Indonesia. Saya, bersama tim peneliti dari Jakarta, Yogyakarta, dan Taiwan, baru saja menyelesaikan proses panjang penerjemahan dan validasi skala DRSP ke dalam Bahasa Indonesia. DRSP adalah instrumen pengukuran yang direkomendasikan secara internasional oleh para ahli kebidanan dan kandungan, dan kini telah disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia. Apa Itu PMS dan Mengapa Harus Diperhatikan? PMS adalah kumpulan gejala fisik dan emosional yang muncul beberapa hari sebelum menstruasi dan hilang setelah haid dimulai. Gejalanya bisa berupa perut kembung, sakit kepala, cemas, cepat marah, atau bahkan menangis tanpa alasan. Menurut data, 8 dari 10 perempuan mengalami gejala ini, namun banyak yang tidak tahu bahwa kondisi tersebut bisa dikelola dan diobati. PMS bisa mempengaruhi kualitas hidup, menurunkan prestasi belajar, serta memengaruhi hubungan sosial dan keluarga. Sayangnya, banyak remaja merasa bahwa PMS adalah hal “biasa” yang harus diterima begitu saja. Hal inilah yang mendorong kami untuk menghadirkan DRSP versi Indonesia. DRSP: Alat Deteksi Mandiri yang Mudah Digunakan DRSP adalah kuesioner yang terdiri dari 21 pertanyaan yang mencakup gejala fisik dan emosional serta pengaruhnya terhadap aktivitas sehari-hari. Dalam versi Indonesia, remaja hanya perlu menjawab skala dari 1 sampai 6 (tidak sama sekali hingga sangat parah), setiap hari selama dua siklus menstruasi. Dalam studi yang melibatkan 315 remaja putri usia 12 hingga 16 tahun di berbagai daerah di Indonesia, DRSP versi Indonesia menunjukkan hasil yang sangat baik: tingkat keakuratan (validitas) dan konsistensi (reliabilitas) yang tinggi. Artinya, alat ini bisa diandalkan untuk membantu para remaja dan tenaga kesehatan memahami kondisi PMS lebih dalam. Mengapa Ini Penting untuk Masyarakat? Dengan hadirnya DRSP versi Indonesia, keluarga dan sekolah bisa lebih mudah mendampingi remaja putri menghadapi PMS. Para ibu, guru, dan petugas kesehatan di puskesmas bisa menggunakan kuesioner ini untuk mendeteksi gejala PMS sejak dini, sehingga bisa diberikan edukasi, konseling, bahkan terapi jika diperlukan. Selain itu, alat ini menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kesadaran akan kesehatan reproduksi perempuan—topik yang masih dianggap tabu di banyak tempat. Peran Perawat dalam Menangani PMS Sebagai perawat dan pendidik di bidang kesehatan perempuan, saya menekankan bahwa perawat punya peran besar dalam mendeteksi dan membantu remaja dengan PMS. Dengan alat bantu yang valid seperti DRSP, perawat bisa memberikan intervensi yang tepat, mulai dari edukasi tentang gaya hidup sehat hingga teknik relaksasi dan manajemen stres. Menuju Masa Depan Kesehatan Remaja yang Lebih Baik Kami berharap hasil penelitian ini bisa menjadi pijakan awal untuk memperluas penggunaan DRSP di sekolah-sekolah, puskesmas, hingga rumah sakit. Validasi ini juga membuka peluang bagi penelitian lanjutan untuk menguji efektivitas berbagai metode penanganan PMS berbasis keperawatan. Kami mengajak semua pihak—orang tua, guru, perawat, dokter, dan pembuat kebijakan—untuk bersama-sama peduli pada kesehatan mental dan fisik remaja putri. Mari bantu mereka mengenali tubuhnya, bukan untuk takut, tetapi agar lebih sehat dan percaya diri menghadapi masa depannya. Oleh: Henny Dwi Susanti, M.Kep., Sp.Kep.Mat., PhDDosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah MalangPeneliti Utama Validasi Skala DRSP Bahasa Indonesia

Peneliti Keperawatan FIKES UMM Validasi Alat Ukur Kepatuhan Perawat Cegah Luka Tekan: Kini Tersedia Versi Bahasa Indonesia

Malang, 23 Mei 2025 — Luka tekan masih menjadi momok di berbagai rumah sakit di Indonesia. Tak hanya memperpanjang masa rawat inap pasien, luka ini juga bisa menimbulkan infeksi serius hingga mengancam jiwa. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti lintas negara, termasuk dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil mengembangkan dan memvalidasi alat ukur untuk mengevaluasi kepatuhan perawat terhadap pedoman pencegahan luka tekan dalam versi Bahasa Indonesia. Alat ukur ini dikenal dengan nama QARPPU (Questionnaire for Assessing Registered Nurses’ Adherence to Pressure Ulcer Prevention Guidelines), dan kini telah tersedia dalam versi Bahasa Indonesia yang valid dan reliabel. Salah satu peneliti utama dari UMM, Muhammad Muslih, Ph.D, menekankan pentingnya instrumen ini bagi dunia keperawatan Indonesia. “Selama ini kita tahu luka tekan bisa dicegah, tapi belum ada alat standar berbahasa Indonesia untuk menilai sejauh mana perawat benar-benar mengikuti pedoman pencegahan. QARPPU hadir untuk mengisi kekosongan itu,” ujar Dr. Muslih. 🔍 Apa Itu Luka Tekan? Luka tekan (pressure ulcer) adalah luka akibat tekanan terus-menerus pada kulit, terutama di bagian tubuh yang bertulang, seperti punggung, tumit, dan bokong. Luka ini sering terjadi pada pasien yang lama berbaring atau duduk tanpa bergerak. Jika tidak dicegah atau ditangani, luka tekan bisa memperparah kondisi pasien. 📋 Apa yang Dilakukan Tim Peneliti? Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.100 perawat dari 106 rumah sakit di 28 provinsi Indonesia, menjadikannya salah satu studi terbesar di bidang ini. QARPPU diterjemahkan dan disesuaikan secara budaya agar mudah dipahami, lalu diuji tingkat validitas dan keakuratannya secara statistik. Alat ini terdiri dari 17 pertanyaan, yang mencakup berbagai aspek penting dalam pencegahan luka tekan, seperti penilaian risiko, perubahan posisi pasien, penggunaan alas tekanan khusus, dan perawatan kulit. “Dengan alat ini, rumah sakit dapat menilai kinerja perawat secara lebih objektif. Ini bisa menjadi dasar untuk pelatihan ulang, evaluasi mutu layanan, bahkan akreditasi rumah sakit,” tambah Dr. Muslih. ✅ Hasilnya? QARPPU versi Indonesia terbukti valid dan reliabel. Perawat yang pernah mengikuti pelatihan luka tekan menunjukkan nilai kepatuhan yang lebih tinggi. Alat ini mampu membedakan tingkat kepatuhan antara perawat di rumah sakit swasta dan negeri. Dapat digunakan untuk riset, evaluasi mutu layanan, dan peningkatan keselamatan pasien. 💬 Harapan untuk Dunia Keperawatan Dr. Muslih berharap alat ini bisa digunakan secara luas, baik di rumah sakit besar maupun puskesmas. “Kita ingin perawat Indonesia punya standar yang sama dengan negara maju dalam hal pencegahan luka tekan. Harapannya, dengan alat ini, pelayanan keperawatan kita akan semakin bermutu dan pasien pun lebih terlindungi,” pungkasnya. QARPPU versi Bahasa Indonesia kini menjadi terobosan penting dalam dunia keperawatan nasional. Dengan alat ini, kita tidak hanya bicara soal kertas dan angka, tapi tentang keselamatan dan kualitas hidup pasien di seluruh pelosok negeri.

Satu dari Empat Anak Alami Bullying: Waspadai Dampaknya pada Kesehatan Mental!

Malang, 22 Mei 2025 – Sebuah studi global yang baru saja dipublikasikan oleh dosen keperawatan UMM, Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D dan Nur Aini, M.Kep dalam jurnal internasional Journal of Affective Disorders, yang diterbitkan oleh Elsevier dan telah terindeks di Scopus dan Web of Science, mengungkap fakta mengejutkan: satu dari empat anak dan remaja di dunia pernah menjadi korban bullying. Penelitian berskala besar ini menganalisis data dari lebih dari 600 ribu anak dan remaja usia 6–18 tahun, dan memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana bullying—baik secara langsung (fisik/verbal) maupun secara online (cyberbullying)—meninggalkan luka psikologis yang mendalam, tidak hanya pada korban, tetapi juga pada pelaku dan mereka yang mengalami keduanya (bully-victims). Penelitian meta-analisis yang dilakukan oleh para ilmuwan dari berbagai negara ini mengkaji data dari lebih dari 600 ribu anak dan remaja usia 6–18 tahun. Hasilnya, sekitar 25% anak pernah menjadi korban, 16% menjadi pelaku, dan 16% lainnya mengalami keduanya secara bersamaan (bully-victims). Bukan Sekadar Lelucon—Ini Masalah Serius Menurut Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D, seorang pakar keperawatan komunitas, bullying bukan sekadar persoalan sepele di lingkungan sekolah. “Bullying bisa menyebabkan anak mengalami depresi, kecemasan, merasa kesepian, bahkan sampai melakukan percobaan bunuh diri. Ini bukan hanya soal ‘diganggu teman’, tapi bisa menghancurkan masa depan dan kesehatan mental mereka,” ujarnya. Dampak psikologis yang ditemukan dalam studi ini sangat mengkhawatirkan: 46% korban bullying mengalami gangguan emosional berat 1 dari 4 mengalami depresi 1 dari 10 melakukan self-harm 9% pernah mencoba bunuh diri Tak hanya korban, pelaku bullying pun menunjukkan gejala mental yang serius. Mereka cenderung merasa kesepian, mengalami gangguan emosional, bahkan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Begitu pula dengan bully-victims, yang menjadi kelompok paling rentan karena merasakan dampak negatif dari dua sisi. Siapa yang Paling Rentan? Nur Aini, M.Kep, seorang dosen dan praktisi keperawatan anak, menjelaskan bahwa ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami bullying. “Anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan atau yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi tertentu cenderung lebih sering mengalami bullying. Anak dengan identitas gender nonkonvensional seperti LGBT juga termasuk kelompok yang sangat rentan,” jelasnya. Faktor-faktor seperti kurangnya dukungan keluarga, merokok, konsumsi alkohol, dan lingkungan sosial yang negatif turut memperburuk kondisi. Apa yang Bisa Kita Lakukan? Kedua narasumber sepakat bahwa pencegahan bullying tidak bisa dilakukan sendirian oleh sekolah atau guru saja. “Perlu pendekatan dari semua pihak—orang tua, sekolah, komunitas, dan pemerintah. Anak-anak perlu merasa aman dan didengar. Edukasi sejak dini, kebijakan anti-bullying yang tegas, dan layanan konseling yang mudah diakses adalah kuncinya,” ujar Dr. Tutu. Sementara itu, Nur Aini menekankan pentingnya keterlibatan keluarga: “Orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Jangan anggap remeh kalau anak tiba-tiba murung, malas sekolah, atau lebih suka menyendiri. Itu bisa jadi tanda mereka sedang mengalami tekanan akibat bullying.” Saatnya Ambil Tindakan Temuan studi ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan kesehatan. Indonesia pun tak boleh tinggal diam. Bullying harus ditangani secara serius, bukan hanya saat ada kasus viral di media sosial. “Kita harus mulai dari rumah, dari ruang kelas, dan dari komunitas kita sendiri. Semua anak berhak merasa aman dan dihargai,” pungkas Dr. Tutu.