Dosen Keperawatan Jiwa UMM Lolos Pendanaan Riset Kemdikbudristek: Angkat Isu Self-Harm Remaja yang Kian Mengkhawatirkan
Malang – Perilaku menyakiti diri sendiri atau self-harm kini menjadi isu yang semakin memprihatinkan, khususnya di kalangan remaja. Fenomena ini bukan hanya menjadi perhatian para orang tua dan tenaga pendidik, tetapi juga telah menarik minat para peneliti untuk menggali lebih dalam akar permasalahannya. Salah satunya adalah Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D., dosen Keperawatan dari Departemen Keperawatan Jiwa, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Tahun ini, beliau berhasil lolos dalam program pendanaan penelitian dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) dalam skema riset saintek terapan. Riset yang diajukan oleh Dr. Tutu mengangkat tema yang sangat relevan dan krusial, yakni tentang perilaku self-harm di kalangan remaja yang kian marak terjadi. “Self-harm adalah perilaku menyakiti diri sendiri secara sengaja, tanpa niatan untuk bunuh diri. Ini bisa berupa tindakan menggigit diri sendiri, mencabut rambut, memukul diri, hingga pada tahap yang lebih serius seperti menyayat atau mengukir bagian tubuh. Ironisnya, perilaku ini tidak jarang muncul sebagai luapan emosi negatif seperti rasa bersalah, marah pada diri sendiri, bahkan karena pengaruh tren di media sosial,” jelas Dr. Tutu. Menurut data yang menjadi dasar penelitiannya, sekitar 20,21% remaja Indonesia pernah melakukan self-harm, dengan 93% di antaranya adalah perempuan. “Ini bukan sekadar angka, ini cermin dari krisis kesehatan mental yang perlu segera ditangani bersama,” tambahnya. Penelitian yang dilakukan Dr. Tutu merupakan kelanjutan dari riset sebelumnya, di mana ia telah memetakan pathway atau jalur penyebab self-harm melalui metode kualitatif. Dalam riset terbarunya ini, beliau akan mengidentifikasi faktor dominan penyebab self-harm dari berbagai aspek: psikologis, sosial, lingkungan, dan biologis, untuk membentuk sebuah model penyebab perilaku tersebut. Hal ini menjadi sangat penting karena belum ada penelitian sejenis di Indonesia yang memfokuskan pada analisis faktor dominan penyebab self-harm secara terpadu. “Masih banyak remaja yang diam-diam mengalami tekanan emosional hebat, tetapi tidak tahu bagaimana cara menyalurkannya. Mereka akhirnya memilih menyakiti diri sendiri sebagai bentuk pelampiasan. Jika tidak ditangani, ini akan menjadi bom waktu yang berdampak pada masa depan generasi muda kita,” tutur Dr. Tutu. Penelitian ini juga berkontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Indonesia, khususnya SDG 3 tentang peningkatan kesehatan dan kesejahteraan mental, serta SDG 11 mengenai terciptanya komunitas yang aman dan inklusif melalui dukungan terhadap kesehatan mental masyarakat. Menariknya, dalam tahap lanjutan dari penelitian ini, Dr. Tutu berencana mengembangkan sebuah perangkat atau device inovatif yang dapat membantu remaja untuk mendeteksi dini gejala atau dorongan melakukan self-harm. Perangkat ini diharapkan dapat menjadi solusi praktis yang membantu baik bagi individu maupun tenaga profesional dalam intervensi awal masalah kesehatan mental remaja. Namun, perjalanan menuju keberhasilan ini bukan tanpa rintangan. Dr. Tutu sempat mengalami tantangan teknis saat proses pengunggahan proposal. “Saya sebenarnya sudah mengunggah proposal jauh-jauh hari untuk menghindari sistem error. Tapi ternyata, seluruh data peserta yang mengunggah lebih awal ter-reset dan harus upload ulang H-1 penutupan. Sempat hopeless, karena sudah tengah malam, dan waktu tinggal sedikit. Tapi berkat bantuan dan dukungan dari Biro Penelitian UMM, akhirnya saya bisa submit tepat waktu. Alhamdulillah, akhirnya bisa lolos,” kenangnya sambil tersenyum. Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi civitas akademika, khususnya para peneliti muda, bahwa dengan ketekunan, dukungan, dan dedikasi, tantangan seberat apapun bisa dilalui. Penelitian ini tidak hanya akan menjadi sumbangsih akademik, tetapi juga berdampak nyata dalam upaya pencegahan dan penanganan masalah kesehatan mental di Indonesia, terutama di kalangan remaja.