Dari Ruang Perawatan ke Barak Militer: Kisah Letda Ckm Rizki, Alumni Perawat UMM yang Kini Jadi Perwira TNI
Perjalanan karier lulusan tenaga kesehatan tak selalu berakhir di ruang klinis. Sebagian justru melangkah lebih jauh, menjadikan ilmu kesehatan sebagai bekal pengabdian di medan yang berbeda. Itulah yang ditunjukkan Letda Ckm Rizki Hasan Hafizdin, S.Kep., Ns., alumnus Program Studi Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang setelah menuntaskan studi profesi pada 2024 langsung mengawali kiprahnya sebagai Perwira TNI. Dalam menjalankan tugasnya di lingkungan militer, ia merasakan bahwa soft skill seperti komunikasi, kepemimpinan, dan public speaking memiliki peran yang sama pentingnya dengan kompetensi teknis keperawatan. Kemampuan berbicara di depan publik yang diasah sejak masa kuliah melalui presentasi akademik dan kegiatan organisasi kini menjadi modal penting saat menghadapi berbagai situasi di lapangan. Bagi Rizki, kesiapan mental dan fisik serta niat yang kuat adalah fondasi utama bagi mahasiswa yang bercita-cita berkarier di TNI. “Kuncinya ada di niat, mental, dan fisik. Kalau itu sudah kuat, hal-hal lain bisa dipelajari. Kampus memberi ruang untuk proses itu, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya,” ujarnya. Lebih dari sekadar institusi pendidikan, Rizki menilai UMM sebagai ruang pembentukan karakter yang mempersiapkannya menghadapi tuntutan disiplin tinggi di dunia militer. Sistem pembelajaran di Program Studi Keperawatan UMM dinilai mampu menyeimbangkan penguasaan akademik dengan pembentukan sikap profesional. Dukungan dosen, lingkungan fakultas yang kondusif, serta kultur akademik yang kuat menjadi fondasi penting selama masa studinya. Ia juga menyoroti komitmen kampus dalam menjaga mutu pendidikan melalui akreditasi dan pendekatan pembelajaran yang adaptif terhadap kebutuhan dunia kerja. “Selama kuliah, kami tidak hanya dituntut memahami teori keperawatan, tetapi juga dibiasakan disiplin, bertanggung jawab, dan tepat waktu. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini ternyata sangat terasa manfaatnya ketika saya masuk ke lingkungan TNI,” katanya. Tak hanya di ruang kelas, kematangan Rizki juga dibentuk melalui pengalaman organisasi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMFA), pengalaman yang menurutnya sangat berperan dalam mengasah kepemimpinan, komunikasi, dan kemampuan mengelola dinamika tim. Melalui organisasi, ia belajar berdiskusi, menyelesaikan konflik, serta menjaga etika komunikasi dengan berbagai pihak—keterampilan yang kini relevan dalam menjalankan tugas sebagai perwira kesehatan di lingkungan militer yang hierarkis dan penuh tanggung jawab. “Organisasi itu mendewasakan. Kita belajar problem solving, public speaking, dan mengelola emosi. Hal-hal ini sangat terpakai, terutama ketika bekerja dalam sistem yang hierarkis seperti di TNI,” jelasnya. Di akhir kisahnya, Rizki berpesan kepada mahasiswa agar tidak ragu aktif di luar kelas dan berproses secara sungguh-sungguh. Menurutnya, kombinasi antara prestasi akademik dan pengalaman organisasi menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan dunia kerja dan pengabdian. “UMM selalu berusaha mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasarnya. Itu yang membuat lulusannya siap bersaing dan berkontribusi di berbagai bidang,” tutupnya.