Simulasi Kegawatdaruratan Warnai Pelatihan BLS Ners 33: Latih Respons Cepat Selamatkan Pasien

Suasana pelatihan di lingkungan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang tampak berbeda ketika mahasiswa Ners angkatan 33 mengikuti pelatihan Basic Life Support (BLS). Kegiatan ini menghadirkan berbagai simulasi kegawatdaruratan yang menuntut mahasiswa untuk berpikir cepat, bertindak tepat, dan bekerja secara sistematis seperti situasi nyata di ruang pelayanan kesehatan. Pelatihan ini menjadi salah satu tahapan penting bagi mahasiswa sebelum memasuki praktik klinik profesi ners yang akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Dalam fase tersebut, mahasiswa akan berhadapan langsung dengan pasien dengan berbagai kondisi kesehatan, termasuk situasi yang membutuhkan tindakan penyelamatan segera. Ketua tim coaching pelatihan BLS, Indah Dwi Pratiwi, S.Kep., Ns., M.Ng., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai penguatan teori, tetapi juga sebagai latihan respons klinik melalui simulasi. Menurutnya, dalam dunia praktik keperawatan, kemampuan melakukan tindakan secara cepat dan tepat sering kali menjadi faktor penentu keselamatan pasien. “Dalam pelatihan ini mahasiswa dilatih untuk menghadapi berbagai skenario kegawatdaruratan, seperti pasien yang mengalami henti jantung maupun tersedak. Mereka harus mampu mengenali kondisi pasien, melakukan tindakan yang sesuai, serta bekerja secara sistematis sesuai prosedur BLS,” jelas Indah. Materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi review penanganan choking serta Resusitasi Jantung Paru (RJP) pada pasien anak dan dewasa. Peserta tidak hanya mempelajari prosedur tersebut secara teori, tetapi juga mempraktikkannya melalui simulasi menggunakan alat peraga. Simulasi ini dirancang sedemikian rupa agar mahasiswa dapat merasakan tekanan situasi yang mendekati kondisi nyata di rumah sakit. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan terbiasa mengambil keputusan secara cepat dan tepat. Ketua Program Studi Profesi Ners, Anis Ika Nur Rohmah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya program studi dalam meningkatkan kualitas lulusan perawat yang profesional dan siap menghadapi tantangan di lapangan. Ia menambahkan bahwa kompetensi kegawatdaruratan merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap perawat. “Perawat sering menjadi tenaga kesehatan pertama yang merespons kondisi pasien. Oleh karena itu, mahasiswa harus benar-benar memahami prosedur BLS dan mampu melakukannya dengan benar ketika menghadapi situasi kritis,” ungkapnya. Sebagai tahap akhir dari pelatihan, mahasiswa mengikuti ujian kompetensi yang bertujuan untuk menilai pemahaman teori serta keterampilan praktik mereka. Hasil ujian ini menjadi indikator bahwa mahasiswa telah siap untuk menjalani praktik klinik dengan bekal keterampilan yang memadai. Melalui pelatihan ini, mahasiswa Ners angkatan 33 tidak hanya mendapatkan pengetahuan tambahan, tetapi juga pengalaman praktik yang memperkuat kesiapan mereka menghadapi situasi kegawatdaruratan di dunia pelayanan kesehatan. Program Studi Profesi Ners UMM berharap kegiatan ini dapat menjadi fondasi penting bagi mahasiswa dalam menjalani proses pendidikan profesi, sekaligus mempersiapkan mereka menjadi perawat yang tanggap, kompeten, dan berorientasi pada keselamatan pasien.