Budaya sebagai Ruang Penyembuhan Sosial: Dosen Keperawatan UMM Soroti Peran Kampung Budaya Polowijen bagi Kesehatan Holistik

Budaya tidak hanya menjadi warisan sejarah atau identitas masyarakat, tetapi juga dapat menjadi ruang penting dalam membentuk kesehatan mental, spiritual, dan sosial manusia. Perspektif ini disampaikan oleh Tutu April Ariani, SKp., MKes., Ph.D., dosen Departemen Keperawatan Jiwa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), dalam forum kajian kebudayaan yang membahas potensi Kampung Budaya Polowijen sebagai laboratorium budaya berbasis masyarakat. Kegiatan yang digelar oleh Pusat Studi Kebudayaan UMM tersebut menghadirkan berbagai akademisi lintas disiplin untuk mengkaji dinamika kebudayaan lokal. Kampung Budaya Polowijen dipilih karena dinilai berhasil mengembangkan pelestarian tradisi berbasis komunitas serta menjadi ruang pembelajaran sosial bagi masyarakat. Dalam perspektif keperawatan, Tutu menegaskan bahwa budaya sebenarnya memiliki relasi erat dengan kesehatan manusia. Ia menjelaskan bahwa praktik budaya lokal sering kali mengandung nilai-nilai sosial, spiritual, dan psikologis yang dapat memperkuat kesejahteraan individu maupun komunitas. “Dalam keperawatan jiwa, kesehatan tidak hanya dipahami sebagai kondisi bebas dari penyakit. Kesehatan merupakan keadaan seimbang antara dimensi biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Budaya lokal sering kali menjadi jembatan yang menghubungkan seluruh dimensi tersebut,” jelasnya. Menurutnya, ruang budaya seperti Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi medium penting dalam membangun ketahanan psikososial masyarakat. Tradisi, seni, dan aktivitas komunitas yang berkembang di dalamnya menciptakan rasa memiliki, identitas kolektif, serta dukungan sosial yang kuat. Ia menilai bahwa dalam konteks modern, masyarakat sering mengalami keterputusan dari akar budaya mereka. Hal ini dapat menimbulkan berbagai masalah psikologis seperti alienasi sosial, stres, hingga krisis identitas. Oleh karena itu, revitalisasi budaya lokal memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan mental masyarakat. Tutu juga menyoroti bahwa konsep kesehatan holistik sebenarnya sudah lama hidup dalam praktik budaya masyarakat Indonesia. Tradisi seperti selametan, ritual komunitas, seni pertunjukan, maupun kegiatan gotong royong secara tidak langsung berfungsi sebagai mekanisme sosial untuk menjaga keseimbangan emosional dan spiritual masyarakat. “Jika kita melihat dari perspektif keperawatan komunitas, aktivitas budaya dapat berfungsi sebagai terapi sosial. Ia menciptakan ruang interaksi, empati, dan solidaritas yang sangat penting dalam kesehatan mental masyarakat,” ujarnya. Dalam kajian tersebut, Kampung Budaya Polowijen dipandang bukan sekadar destinasi wisata budaya, tetapi juga sebagai laboratorium sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat memelihara identitas dan nilai-nilai kolektif mereka secara berkelanjutan. Tutu menilai pendekatan ini sangat relevan bagi pendidikan keperawatan masa depan. Mahasiswa keperawatan, menurutnya, perlu memahami bahwa kesehatan manusia tidak dapat dilepaskan dari konteks sosial budaya di mana individu tersebut hidup. “Perawat tidak hanya berhadapan dengan tubuh biologis pasien. Mereka juga berhadapan dengan manusia yang memiliki latar budaya, nilai spiritual, dan identitas sosial tertentu,” ungkapnya. Karena itu, ia mendorong integrasi kajian budaya dalam pendidikan keperawatan agar mahasiswa memiliki sensitivitas budaya ketika memberikan asuhan keperawatan. Menurutnya, Kampung Budaya Polowijen dapat menjadi laboratorium pembelajaran yang sangat kaya bagi mahasiswa kesehatan untuk memahami hubungan antara budaya, masyarakat, dan kesehatan. “Jika mahasiswa keperawatan belajar langsung dari komunitas budaya, mereka akan memahami bahwa kesehatan masyarakat tidak hanya dibangun oleh layanan medis, tetapi juga oleh relasi sosial dan makna budaya yang hidup dalam masyarakat,” pungkasnya.