Bangun Mental dan Kompetensi Klinis, Prodi Ners FIKES UMM Siapkan Mahasiswa Angkatan 33 Lewat Matrikulasi Intensif

Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Malang kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak perawat profesional yang siap menghadapi tantangan dunia klinis. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan matrikulasi bagi mahasiswa Ners angkatan 33 yang berlangsung melalui serangkaian agenda akademik dan praktik intensif sejak Februari hingga awal Maret. Berbeda dengan sekadar orientasi akademik, matrikulasi ini dirancang sebagai proses transisi penting bagi mahasiswa sebelum menjalani praktik profesi di berbagai rumah sakit. Program ini menitikberatkan pada penguatan keterampilan klinis, pemantapan konsep keperawatan, serta pembangunan kepercayaan diri mahasiswa ketika berhadapan dengan pasien secara langsung. Ketua Program Studi Profesi Ners FIKES UMM, Anis Ika Nur Rohmah, M.Kep., Sp.Kep.MB., menjelaskan bahwa mahasiswa profesi Ners harus memiliki kesiapan yang komprehensif sebelum memasuki dunia praktik klinik. Hal ini karena lingkungan rumah sakit memiliki dinamika yang kompleks dan menuntut kemampuan pengambilan keputusan yang cepat serta tepat. Menurutnya, matrikulasi menjadi salah satu strategi akademik untuk memastikan seluruh mahasiswa memiliki standar kompetensi yang sama sebelum memulai praktik profesi. “Mahasiswa yang masuk ke tahap profesi berasal dari berbagai pengalaman akademik selama sarjana. Melalui matrikulasi ini kami menyamakan kembali pemahaman mereka, baik dari sisi proses keperawatan maupun keterampilan klinis, sehingga ketika mereka masuk rumah sakit sudah memiliki kesiapan yang optimal,” ujarnya. Rangkaian kegiatan matrikulasi dimulai dengan pemantapan proses keperawatan (Proskep) selama dua hari pada tanggal 19–20 Februari. Pada tahap ini mahasiswa kembali memperdalam konsep dasar proses keperawatan dari seluruh departemen. Materi yang diberikan meliputi tahapan pengkajian pasien, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, implementasi intervensi, hingga evaluasi asuhan keperawatan. Pemahaman mendalam terhadap proses keperawatan dinilai sangat penting karena menjadi fondasi utama dalam praktik profesional seorang perawat. Kesalahan dalam proses analisis atau penetapan diagnosis dapat berdampak pada ketidaktepatan intervensi yang diberikan kepada pasien. Setelah penguatan konsep tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan pemantapan keterampilan laboratorium yang berlangsung selama satu minggu, tepatnya pada 23–27 Februari. Pada sesi ini mahasiswa mempraktikkan berbagai keterampilan klinis prioritas dari seluruh departemen keperawatan. Mahasiswa melakukan latihan prosedur tindakan keperawatan secara langsung di laboratorium dengan skenario yang menyerupai kondisi nyata di rumah sakit. Mulai dari tindakan keperawatan dasar hingga keterampilan yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi tinggi, semuanya dilatih kembali secara intensif agar mahasiswa semakin terampil dan percaya diri. Ketua matrikulasi Ners angkatan 33, Nur Melizza S.Kep., Ns., M.Kep., menjelaskan bahwa pendekatan praktik langsung sangat penting dalam pembelajaran profesi keperawatan. “Kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi benar-benar mampu melakukan tindakan secara tepat sesuai standar prosedur. Latihan yang berulang di laboratorium menjadi kunci agar mereka terbiasa menghadapi situasi klinis,” jelasnya. Selain penguatan aspek akademik dan teknis, Prodi Ners juga memberikan perhatian khusus pada kesiapan mental mahasiswa. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan sebagai forum refleksi dan penguatan psikologis sebelum mahasiswa memasuki praktik klinik. Dalam forum tersebut mahasiswa diajak untuk berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mungkin mereka temui selama praktik di rumah sakit. Diskusi tersebut juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan kekhawatiran serta berbagi pengalaman dengan dosen pembimbing. Menurut Nur Melizza, kegiatan FGD memiliki peran penting dalam membangun rasa percaya diri mahasiswa. “Sering kali mahasiswa merasa gugup atau khawatir saat pertama kali menghadapi pasien secara langsung. Melalui FGD ini kami membantu mereka memahami bahwa hal tersebut adalah proses yang wajar, sekaligus memberikan strategi agar mereka lebih siap dan percaya diri,” tambahnya. Sebagai tahap evaluasi akhir, mahasiswa kemudian mengikuti Objective Structured Clinical Examination (OSCE) yang dilaksanakan selama tiga hari pada 5–9 Maret. OSCE merupakan metode evaluasi yang dirancang untuk menilai kemampuan klinis mahasiswa secara objektif melalui berbagai stasiun keterampilan. Pada setiap stasiun, mahasiswa dihadapkan pada skenario kasus yang menuntut mereka untuk menunjukkan keterampilan prosedural, kemampuan komunikasi terapeutik, serta ketepatan dalam melakukan pengambilan keputusan klinis. Melalui metode ini, dosen dapat menilai sejauh mana mahasiswa mampu mengintegrasikan pengetahuan teori dengan praktik keperawatan secara nyata. Anis Ika menegaskan bahwa rangkaian matrikulasi tersebut merupakan bentuk keseriusan Prodi Ners FIKES UMM dalam menyiapkan lulusan yang profesional dan kompeten. “Kami ingin memastikan mahasiswa tidak hanya siap secara akademik, tetapi juga memiliki mental yang kuat, keterampilan klinis yang baik, serta sikap profesional saat memberikan asuhan keperawatan kepada pasien,” tegasnya. Dengan pembekalan yang komprehensif melalui matrikulasi ini, mahasiswa Ners angkatan 33 diharapkan mampu menjalani praktik profesi dengan lebih percaya diri, adaptif, serta menjunjung tinggi standar pelayanan keperawatan yang berkualitas. Prodi Ners FIKES UMM optimistis bahwa generasi perawat yang sedang dipersiapkan ini nantinya dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun di berbagai sektor pelayanan kesehatan lainnya.