Lecture Exchange Internasional: Pakar Keperawatan USM Malaysia Bekali Mahasiswa Keperawatan UMM dengan Manajemen Komprehensif Pasien Stroke
Malang – Komitmen Program Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) dalam menghadirkan pengalaman pembelajaran bertaraf internasional kembali diwujudkan melalui kegiatan Lecture Exchange bersama Program Keperawatan Universiti Sains Malaysia (USM). Pada kesempatan tersebut, mahasiswa Keperawatan UMM memperoleh wawasan langsung dari akademisi dan praktisi keperawatan Malaysia, Norliza Hussin, yang menyampaikan materi bertajuk Nursing Management in Stroke Patient. Kegiatan yang berlangsung secara interaktif ini menjadi bagian dari penguatan kerja sama akademik internasional antara Keperawatan UMM dan USM. Mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teoritis mengenai stroke, tetapi juga memperoleh gambaran praktik keperawatan berbasis bukti yang diterapkan dalam pelayanan kesehatan modern di Malaysia. Dalam paparannya, Norliza Hussin menjelaskan bahwa stroke masih menjadi salah satu penyebab utama kecacatan dan kematian di berbagai negara. Stroke terjadi ketika aliran darah menuju otak terganggu atau berkurang sehingga menyebabkan kerusakan hingga kematian sel-sel otak. Ia menjelaskan dua jenis utama stroke, yaitu stroke iskemik akibat sumbatan pembuluh darah dan stroke hemoragik akibat pecahnya pembuluh darah di otak. Mahasiswa diajak memahami bagaimana proses patofisiologi stroke berlangsung sejak terjadinya gangguan suplai oksigen dan glukosa ke jaringan otak, yang kemudian memicu kerusakan neuron secara progresif. Penjelasan tersebut menjadi fondasi penting bagi mahasiswa keperawatan dalam memahami alasan di balik berbagai intervensi klinis yang dilakukan pada pasien stroke. Selain membahas konsep dasar, sesi kuliah internasional ini juga mengupas berbagai manifestasi klinis stroke yang harus dikenali sejak dini oleh tenaga kesehatan. Gejala seperti kelemahan pada satu sisi tubuh, wajah mencong, gangguan bicara, gangguan penglihatan, hingga kesulitan berjalan menjadi tanda-tanda penting yang harus segera diidentifikasi. Mahasiswa juga diperkenalkan kembali pada metode FAST (Face Drooping, Arm Weakness, Speech Difficulty, Time to Seek Emergency Help) sebagai pendekatan sederhana namun efektif dalam deteksi dini stroke. Tidak hanya berfokus pada aspek diagnosis, Norliza Hussin menekankan peran strategis perawat dalam fase akut stroke. Menurutnya, keberhasilan penanganan pasien stroke sangat ditentukan oleh kemampuan perawat dalam menjaga jalan napas, memonitor status neurologis, mempertahankan sirkulasi, serta melakukan pemantauan ketat terhadap perubahan kondisi pasien. Intervensi keperawatan yang cepat dan tepat dapat meminimalkan kerusakan otak yang lebih luas dan meningkatkan peluang pemulihan pasien. Mahasiswa Keperawatan UMM tampak antusias mengikuti pemaparan tersebut. Berbagai pertanyaan diajukan terkait implementasi perawatan stroke di rumah sakit, strategi rehabilitasi, hingga tantangan yang dihadapi keluarga pasien pascastroke. Diskusi lintas negara ini memberikan perspektif baru mengenai pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam penanganan pasien stroke. Ketua Program Studi Keperawatan UMM, Nur Aini, menyampaikan bahwa kegiatan lecture exchange menjadi salah satu strategi penting dalam meningkatkan kualitas pembelajaran mahasiswa sekaligus memperluas jejaring internasional program studi. Menurutnya, dunia keperawatan saat ini berkembang sangat cepat dan menuntut lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki wawasan global. Oleh karena itu, keterlibatan dosen internasional dalam proses pembelajaran menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan mahasiswa pada praktik keperawatan yang berkembang di berbagai negara. “Kerja sama antara Keperawatan UMM dan USM merupakan langkah strategis untuk menghadirkan pengalaman belajar internasional kepada mahasiswa. Kami ingin mahasiswa mendapatkan perspektif global mengenai praktik keperawatan berbasis evidence, sekaligus memahami bagaimana tantangan pelayanan kesehatan dihadapi di berbagai negara,” ujar Nur Aini. Ia menambahkan bahwa kegiatan ini tidak berhenti pada pertukaran kuliah semata, melainkan akan terus dikembangkan ke arah kolaborasi penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi ilmiah, serta pertukaran mahasiswa dan dosen. Melalui kegiatan ini, mahasiswa Keperawatan UMM memperoleh kesempatan berharga untuk memperluas wawasan profesional, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, dan memahami praktik keperawatan internasional secara lebih mendalam. Kehadiran narasumber dari USM juga menjadi bukti bahwa FIKES UMM terus berupaya menghadirkan pendidikan berkualitas yang mampu mencetak perawat berdaya saing global.
Dari Posyandu ke Meja Makan Keluarga, Pengabdian Dosen Keperawatan UMM Bangun Kesadaran Kolektif Cegah Stunting
Karangploso, Kabupaten Malang – Pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan rutin di posyandu. Dibutuhkan perubahan pola pikir dan kebiasaan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak setiap hari. Kesadaran inilah yang coba dibangun oleh tim dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melalui program pengabdian masyarakat yang menyasar ibu-ibu balita di Kecamatan Karangploso. Program tersebut mengangkat tema pemanfaatan pangan lokal sebagai solusi berkelanjutan dalam mencegah stunting. Melalui serangkaian edukasi dan pendampingan, para ibu diajak memahami bahwa bahan pangan yang tersedia di sekitar rumah sebenarnya memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Berbeda dengan pendekatan penyuluhan konvensional, kegiatan ini dirancang secara partisipatif. Para peserta diajak berdiskusi mengenai tantangan yang mereka hadapi dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, mulai dari keterbatasan ekonomi hingga kesulitan menghadapi anak yang memilih-milih makanan. Ratih Eka Pertiwi, M.Psi., menjelaskan bahwa faktor psikologis keluarga juga berpengaruh terhadap pola makan anak. Tidak sedikit orang tua yang menyerah ketika anak menolak makanan tertentu dan akhirnya memilih memberikan makanan instan yang dianggap lebih praktis. “Perubahan perilaku tidak bisa dilakukan hanya dengan memberikan informasi. Masyarakat perlu didampingi agar memiliki keyakinan dan keterampilan untuk menerapkan pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya. Dalam sesi pelatihan, ibu-ibu diajarkan cara mengombinasikan berbagai bahan pangan lokal seperti sayuran, telur, ikan, umbi-umbian, dan kacang-kacangan menjadi menu yang kaya nutrisi sekaligus menarik bagi anak. Praktik tersebut memberikan gambaran nyata bahwa makanan sehat tidak harus mahal. Dr. Siti Maimunah menambahkan bahwa penguatan kapasitas keluarga merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, keberhasilan penanganan stunting tidak hanya diukur dari meningkatnya berat badan anak, tetapi juga dari meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya gizi dan pola asuh yang tepat. Kegiatan ini juga memperkuat peran posyandu sebagai pusat edukasi kesehatan masyarakat. Posyandu tidak lagi hanya menjadi tempat penimbangan balita, tetapi juga ruang belajar bagi keluarga untuk memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan dan gizi anak. Pendekatan berbasis masyarakat seperti ini dinilai sangat relevan dengan kondisi saat ini. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh pengetahuan keluarga, pola asuh, sanitasi, dan akses terhadap layanan kesehatan. Karena itu, intervensi yang menyentuh aspek perilaku menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan. Bagi masyarakat Karangploso, kehadiran dosen-dosen UMM memberikan harapan baru dalam menghadapi tantangan stunting. Mereka merasa mendapatkan pendampingan yang aplikatif dan sesuai dengan kondisi kehidupan sehari-hari. Melalui pengabdian ini, dosen Keperawatan UMM menunjukkan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga hadir di tengah masyarakat untuk memberikan solusi nyata. Dari dapur keluarga hingga posyandu desa, langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama diyakini mampu menciptakan perubahan besar dalam mewujudkan generasi Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bebas stunting.