Impaired Physical Mobility & Immobility Nursing Diagnosis & Care Plans -  NurseslabsPentingnya Peran Latihan Range of Motion (ROM) dalam Pemulihan Pasien dengan Gangguan Mobilitas Fisik

Malang — Dalam dunia kesehatan, salah satu fokus utama yang terus menjadi perhatian adalah pemulihan pasien dengan gangguan mobilitas fisik. Gangguan ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk bergerak secara optimal, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidupnya. Untuk membantu pasien mendapatkan kembali kemampuan motoriknya, para ahli dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menyoroti pentingnya latihan *Range of Motion* (ROM) sebagai salah satu intervensi keperawatan yang efektif.

Latihan ROM merupakan serangkaian gerakan terkontrol yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan fleksibilitas sendi dan kekuatan otot. Menurut Lilis Setyowati, dosen keperawatan UMM, latihan ini bertujuan untuk merangsang pergerakan otot dan sendi yang terganggu akibat berbagai kondisi seperti stroke, cedera, atau penyakit degeneratif lainnya. “ROM sangat penting, terutama untuk mencegah kekakuan otot, meningkatkan sirkulasi darah, serta mempertahankan kemampuan motorik pasien,” jelas Lilis.

Hal senada juga diungkapkan oleh rekan-rekan Lilis, yaitu Elma dan Erma Wahyu Mashfufa. Mereka menekankan bahwa penerapan latihan ROM harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. “Setiap pasien memiliki tingkat kemampuan fisik yang berbeda-beda. Sebagai perawat, kita harus mampu menyesuaikan intensitas latihan sesuai dengan kebutuhan individu,” ujar Erma.

Ollyvia Freeska Dwi Marta menambahkan bahwa latihan ROM tidak hanya bermanfaat secara fisik tetapi juga secara psikologis. Pasien yang aktif melakukan latihan ini cenderung merasa lebih optimis dan percaya diri dalam proses pemulihan mereka. “Semangat dan keterlibatan pasien sangat berpengaruh terhadap efektivitas terapi. Oleh karena itu, penting bagi perawat untuk memberikan motivasi dan pendampingan selama sesi latihan,” katanya.

Lebih lanjut, Nur Aini, salah satu dosen senior di bidang keperawatan, menjelaskan bahwa latihan ROM harus dilakukan secara rutin dan konsisten untuk mendapatkan hasil yang optimal. Ia juga menekankan pentingnya edukasi bagi keluarga pasien. “Keluarga memegang peran penting dalam mendukung pasien. Dengan pemahaman yang baik tentang latihan ROM, keluarga dapat membantu pasien melakukan latihan ini di rumah,” tutur Nur.

Penelitian yang dilakukan oleh para dosen keperawatan UMM ini menunjukkan bahwa latihan ROM memiliki dampak signifikan dalam meningkatkan fungsi motorik pasien dengan gangguan mobilitas fisik. Meski demikian, keberhasilan terapi ini sangat bergantung pada keterlibatan aktif pasien, dukungan keluarga, dan pendampingan yang intensif dari tenaga kesehatan.

Melalui edukasi dan penerapan yang tepat, diharapkan latihan ROM dapat menjadi solusi efektif dalam membantu pasien mengembalikan kemampuan motoriknya. Dengan demikian, kualitas hidup pasien yang mengalami gangguan mobilitas fisik dapat meningkat secara signifikan.

Para pakar kesehatan dari UMM ini berharap hasil penelitian mereka dapat memberikan inspirasi bagi tenaga medis lainnya untuk terus mengembangkan intervensi yang inovatif dan berbasis bukti, demi pelayanan kesehatan yang lebih baik di masa mendatang.