Dunia perkuliahan yang penuh dengan tuntutan akademis ternyata membawa dampak besar pada pola tidur mahasiswa keperawatan di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Banyak dari mereka yang harus bergulat dengan gangguan tidur seperti insomnia, kantuk berlebihan di siang hari, hingga kualitas tidur yang buruk. Fenomena ini tidak hanya memengaruhi kesehatan mereka, tetapi juga kinerja akademis.
Ollyvia Freeska Dwi Marta, S.Kep., Ns., M.Sc., salah satu dosen keperawatan UMM, mengungkapkan bahwa gangguan tidur di kalangan mahasiswa keperawatan menjadi masalah serius. “Mahasiswa keperawatan sering kali memiliki jadwal yang sangat padat. Mereka harus belajar, praktik di rumah sakit, dan mempersiapkan ujian. Semua ini menekan waktu istirahat mereka,” ujarnya. Menurutnya, kurang tidur dapat berdampak pada konsentrasi dan kemampuan berpikir kritis, yang sangat diperlukan dalam profesi keperawatan.
Hal senada disampaikan oleh Faqih Ruhyanudin, M. Kep., Sp.Kep.MB. Ia menyoroti bahwa kebiasaan tidur yang buruk bisa menjadi “lingkaran setan” bagi mahasiswa. “Ketika mereka begadang untuk belajar, mereka merasa mengorbankan tidur demi nilai akademis. Padahal, kurang tidur justru menurunkan daya ingat dan performa mereka saat ujian,” kata Faqih. Ia pun menambahkan bahwa penting bagi mahasiswa untuk memahami cara mengatur waktu dengan baik agar kebutuhan tidur mereka tetap terpenuhi.
Sementara itu, Indah Dwi Pratiwi, MNg, menyebutkan bahwa gangguan tidur ini tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga kondisi mental mahasiswa. “Tidur adalah waktu di mana tubuh dan pikiran kita memulihkan diri. Jika ini terganggu, risiko stres dan kecemasan meningkat, yang akhirnya menghambat produktivitas,” jelasnya. Indah juga menegaskan pentingnya edukasi tentang manajemen stres dan teknik relaksasi bagi mahasiswa keperawatan.
Dalam pandangan Nurul Aini, S.Kep., Ns., M.Kep., pola tidur yang buruk sering kali disebabkan oleh tekanan dari lingkungan akademis dan sosial. “Mahasiswa merasa harus selalu siap dan kompeten dalam setiap situasi, baik di kelas maupun di klinik. Tekanan ini sering membuat mereka sulit tidur, bahkan saat ada waktu untuk istirahat,” ungkapnya. Ia pun menyarankan agar mahasiswa mulai membiasakan rutinitas tidur yang konsisten sebagai langkah awal memperbaiki kualitas tidur.
Erma Wahyu Mashfufa, S.Kep., Ns., M.Si., menambahkan bahwa dosen juga memiliki peran penting dalam membantu mahasiswa mengatasi masalah ini. “Sebagai pendidik, kami perlu memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang pentingnya keseimbangan antara belajar dan istirahat. Kalau perlu, jadwal kuliah dan tugas juga harus disesuaikan agar tidak terlalu membebani mereka,” kata Erma.
Melalui kolaborasi antara mahasiswa dan dosen, diharapkan gangguan tidur yang sering dialami ini bisa diminimalkan. “Tidur itu bukan kemewahan, tapi kebutuhan dasar. Mahasiswa keperawatan harus sadar bahwa menjaga kesehatan diri adalah bagian dari profesi mereka sebagai calon perawat,” tutup Ollyvia.
Harapan untuk Masa Depan
Meski tantangan gangguan tidur ini masih menjadi isu, para dosen UMM optimistis bahwa dengan pendekatan yang tepat, mahasiswa bisa mengatasi masalah ini. Keseimbangan antara belajar, praktik, dan istirahat perlu terus didorong agar mereka tidak hanya sukses secara akademis, tetapi juga tetap sehat dan siap menjalani karier di dunia keperawatan.
Dengan perhatian dari pihak kampus dan kesadaran mahasiswa untuk menjaga pola tidur yang sehat, masa depan cerah bagi para calon perawat ini bukanlah mimpi belaka.