Malang, 22 Mei 2025 – Sebuah studi global yang baru saja dipublikasikan oleh dosen keperawatan UMM, Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D dan Nur Aini, M.Kep dalam jurnal internasional Journal of Affective Disorders, yang diterbitkan oleh Elsevier dan telah terindeks di Scopus dan Web of Science, mengungkap fakta mengejutkan: satu dari empat anak dan remaja di dunia pernah menjadi korban bullying.
Penelitian berskala besar ini menganalisis data dari lebih dari 600 ribu anak dan remaja usia 6–18 tahun, dan memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana bullying—baik secara langsung (fisik/verbal) maupun secara online (cyberbullying)—meninggalkan luka psikologis yang mendalam, tidak hanya pada korban, tetapi juga pada pelaku dan mereka yang mengalami keduanya (bully-victims).
Penelitian meta-analisis yang dilakukan oleh para ilmuwan dari berbagai negara ini mengkaji data dari lebih dari 600 ribu anak dan remaja usia 6–18 tahun. Hasilnya, sekitar 25% anak pernah menjadi korban, 16% menjadi pelaku, dan 16% lainnya mengalami keduanya secara bersamaan (bully-victims).
Bukan Sekadar Lelucon—Ini Masalah Serius
Menurut Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D, seorang pakar keperawatan komunitas, bullying bukan sekadar persoalan sepele di lingkungan sekolah.
“Bullying bisa menyebabkan anak mengalami depresi, kecemasan, merasa kesepian, bahkan sampai melakukan percobaan bunuh diri. Ini bukan hanya soal ‘diganggu teman’, tapi bisa menghancurkan masa depan dan kesehatan mental mereka,” ujarnya.
Dampak psikologis yang ditemukan dalam studi ini sangat mengkhawatirkan:
-
46% korban bullying mengalami gangguan emosional berat
-
1 dari 4 mengalami depresi
-
1 dari 10 melakukan self-harm
-
9% pernah mencoba bunuh diri
Tak hanya korban, pelaku bullying pun menunjukkan gejala mental yang serius. Mereka cenderung merasa kesepian, mengalami gangguan emosional, bahkan melakukan tindakan menyakiti diri sendiri. Begitu pula dengan bully-victims, yang menjadi kelompok paling rentan karena merasakan dampak negatif dari dua sisi.
Siapa yang Paling Rentan?
Nur Aini, M.Kep, seorang dosen dan praktisi keperawatan anak, menjelaskan bahwa ada kelompok tertentu yang lebih rentan mengalami bullying.
“Anak-anak yang tinggal di daerah perkotaan atau yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi tertentu cenderung lebih sering mengalami bullying. Anak dengan identitas gender nonkonvensional seperti LGBT juga termasuk kelompok yang sangat rentan,” jelasnya.
Faktor-faktor seperti kurangnya dukungan keluarga, merokok, konsumsi alkohol, dan lingkungan sosial yang negatif turut memperburuk kondisi.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Kedua narasumber sepakat bahwa pencegahan bullying tidak bisa dilakukan sendirian oleh sekolah atau guru saja.
“Perlu pendekatan dari semua pihak—orang tua, sekolah, komunitas, dan pemerintah. Anak-anak perlu merasa aman dan didengar. Edukasi sejak dini, kebijakan anti-bullying yang tegas, dan layanan konseling yang mudah diakses adalah kuncinya,” ujar Dr. Tutu.
Sementara itu, Nur Aini menekankan pentingnya keterlibatan keluarga:
“Orang tua harus lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Jangan anggap remeh kalau anak tiba-tiba murung, malas sekolah, atau lebih suka menyendiri. Itu bisa jadi tanda mereka sedang mengalami tekanan akibat bullying.”
Saatnya Ambil Tindakan
Temuan studi ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan kesehatan. Indonesia pun tak boleh tinggal diam. Bullying harus ditangani secara serius, bukan hanya saat ada kasus viral di media sosial.
“Kita harus mulai dari rumah, dari ruang kelas, dan dari komunitas kita sendiri. Semua anak berhak merasa aman dan dihargai,” pungkas Dr. Tutu.