Cara Pencegahan dan Perawatan Luka DiabetesMalang, 23 Mei 2025 — Luka tekan masih menjadi momok di berbagai rumah sakit di Indonesia. Tak hanya memperpanjang masa rawat inap pasien, luka ini juga bisa menimbulkan infeksi serius hingga mengancam jiwa. Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti lintas negara, termasuk dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), berhasil mengembangkan dan memvalidasi alat ukur untuk mengevaluasi kepatuhan perawat terhadap pedoman pencegahan luka tekan dalam versi Bahasa Indonesia.

Alat ukur ini dikenal dengan nama QARPPU (Questionnaire for Assessing Registered Nurses’ Adherence to Pressure Ulcer Prevention Guidelines), dan kini telah tersedia dalam versi Bahasa Indonesia yang valid dan reliabel. Salah satu peneliti utama dari UMM, Muhammad Muslih, Ph.D, menekankan pentingnya instrumen ini bagi dunia keperawatan Indonesia.

“Selama ini kita tahu luka tekan bisa dicegah, tapi belum ada alat standar berbahasa Indonesia untuk menilai sejauh mana perawat benar-benar mengikuti pedoman pencegahan. QARPPU hadir untuk mengisi kekosongan itu,” ujar Dr. Muslih.

🔍 Apa Itu Luka Tekan?

Luka tekan (pressure ulcer) adalah luka akibat tekanan terus-menerus pada kulit, terutama di bagian tubuh yang bertulang, seperti punggung, tumit, dan bokong. Luka ini sering terjadi pada pasien yang lama berbaring atau duduk tanpa bergerak. Jika tidak dicegah atau ditangani, luka tekan bisa memperparah kondisi pasien.

📋 Apa yang Dilakukan Tim Peneliti?

Penelitian ini melibatkan lebih dari 1.100 perawat dari 106 rumah sakit di 28 provinsi Indonesia, menjadikannya salah satu studi terbesar di bidang ini. QARPPU diterjemahkan dan disesuaikan secara budaya agar mudah dipahami, lalu diuji tingkat validitas dan keakuratannya secara statistik.

Alat ini terdiri dari 17 pertanyaan, yang mencakup berbagai aspek penting dalam pencegahan luka tekan, seperti penilaian risiko, perubahan posisi pasien, penggunaan alas tekanan khusus, dan perawatan kulit.

“Dengan alat ini, rumah sakit dapat menilai kinerja perawat secara lebih objektif. Ini bisa menjadi dasar untuk pelatihan ulang, evaluasi mutu layanan, bahkan akreditasi rumah sakit,” tambah Dr. Muslih.

✅ Hasilnya?

💬 Harapan untuk Dunia Keperawatan

Dr. Muslih berharap alat ini bisa digunakan secara luas, baik di rumah sakit besar maupun puskesmas.

“Kita ingin perawat Indonesia punya standar yang sama dengan negara maju dalam hal pencegahan luka tekan. Harapannya, dengan alat ini, pelayanan keperawatan kita akan semakin bermutu dan pasien pun lebih terlindungi,” pungkasnya.

QARPPU versi Bahasa Indonesia kini menjadi terobosan penting dalam dunia keperawatan nasional. Dengan alat ini, kita tidak hanya bicara soal kertas dan angka, tapi tentang keselamatan dan kualitas hidup pasien di seluruh pelosok negeri.