
Semarak Milad ke-19 Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) berlangsung sangat berbeda tahun ini (20/12). Bukan hanya tentang refleksi perjalanan akademik, tetapi juga aksi nyata bagi pembangunan mental health generasi muda. Pada Kamis pagi, ratusan siswa SMA dari berbagai wilayah Indonesia berkumpul secara virtual melalui Zoom Meeting dalam agenda Seminar Nasional “Healthy Mind, Safe School: Bersama Ciptakan Lingkungan Sekolah Bebas Bullying”. Total peserta mencapai lebih dari 530 siswa dari berbagai provinsi, menjadikan kegiatan ini salah satu seminar pencegahan bullying terbesar yang pernah diselenggarakan oleh prodi S1 Keperawatan.
Acara ini tidak sekadar penyampaian teori—tetapi ruang dialog interaktif dan refleksi bersama tentang urgensi kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Topik ini semakin relevan mengingat angka kasus bullying di sekolah masih tinggi dan cenderung meningkat di berbagai daerah.
Dekan FIKES UMM: Bullying Bukan Masalah Ringan
Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., hadir membuka kegiatan dan menekankan bahwa isu bullying bukan sekadar persoalan sosial, tetapi masalah kesehatan mental serius yang mampu merusak tumbuh kembang siswa.
Menurutnya, sekolah seharusnya menjadi ruang aman, nyaman, dan sehat bagi seluruh peserta didik, bukan arena tekanan psikologis yang dapat memicu stres berkepanjangan, prestasi menurun, hingga trauma jangka panjang.
Ia menegaskan bahwa pencegahan bullying tidak boleh dilakukan setengah hati atau hanya pada tataran wacana. Sinergi berbagai pihak sangat dibutuhkan, mulai dari pihak sekolah, guru Bimbingan Konseling, orang tua, tenaga kesehatan hingga para siswa sendiri.
Dekan FIKES UMM juga menyoroti pentingnya peran siswa sebagai agen perubahan:
“Budaya saling menghargai dan empati justru harus tumbuh dari siswa itu sendiri. Mereka bukan objek perlindungan semata, tetapi subjek penting dalam membangun sekolah yang aman dan bebas bullying.”
Di sisi lain, ia menantang paradigma lama bahwa bullying adalah bagian dari ‘pembentukan karakter’. Ia menyebut pendekatan seperti itu tidak hanya keliru, tetapi juga membahayakan mental remaja.
Milad Ke-19 Prodi Keperawatan: Unity in Action, Humanity in Motion
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-19 Program Studi Ilmu Keperawatan FIKES UMM. Kaprodi S1 Keperawatan, Nur Aini, Ph.D, menegaskan bahwa tema besar Milad tahun ini, “Unity in Action, Humanity in Motion,” tidak dipilih secara sembarangan.
Ia menjelaskan bahwa peran keperawatan bukan hanya menyentuh ranah klinis di rumah sakit, tetapi juga ranah promotif dan preventif di tengah masyarakat—termasuk lingkungan sekolah.
Nur Aini juga mengingatkan bahwa isu bullying tidak dapat diselesaikan hanya melalui wacana ilmiah. Harus ada tindak lanjut konkret yang lahir dari pertemuan ini. Bahkan, ia mengajak guru BK untuk memanfaatkan ruang seminar sebagai ajang bertukar metode pendampingan psikososial dan strategi manajemen kasus bullying di sekolah masing-masing.
Harapannya, jejaring antarsekolah yang hadir dari berbagai daerah dapat melahirkan kolaborasi nyata:
“Jika seminar ini hanya berhenti pada diskusi, maka nilainya belum cukup. Kami ingin setelah ini lahir gerakan bersama antar lingkungan sekolah untuk saling belajar dan menguatkan menuju sekolah bebas bullying.”
Ketua Pelaksana Nashiwa Aulia Zahrani: Suara Anak Muda untuk Perubahan
Mahasiswa angkatan 2024 sekaligus ketua pelaksana, Nashiwa Aulia Zahrani, menuturkan bahwa milad bukan sekadar perayaan, tetapi momentum anak muda untuk berkarya dan berkontribusi. Menurutnya, para peserta seminar bukan hanya tamu, tetapi bagian dari perjuangan panjang membangun budaya sekolah yang sehat, menghargai perbedaan, serta menjaga mental tiap siswa.
Nashiwa optimis bahwa kegiatan ini memberikan ruang inspiratif untuk mengenali potensi diri, belajar membangun empati, dan menolak segala bentuk perundungan. Ia berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai event seremonial tahunan, melainkan menjadi pemantik aksi lanjutan: pelatihan peer counsellor, advokasi di sekolah, hingga pembentukan agen antiperundungan di berbagai wilayah.
“Generasi muda perlu ruang aman untuk berkembang, merasa dihargai, dan didengar. Lingkungan sekolah bebas bullying bukan mimpi; itu tugas kita semua untuk mewujudkannya,” ujarnya.