Mahasiswa Keperawatan juara 1 Essay nasional
Mahasiswa Keperawatan juara 1 Essay nasional

Keberhasilan mahasiswa Keperawatan FIKES Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih Juara 1 Nursing Skill Competition 2025 di Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) bukan sekadar prestasi lomba, tetapi juga kontribusi akademik yang relevan dengan tantangan pelayanan kesehatan modern.

Melalui karya bertajuk Strategi SIMPATI, Fatimah Azzahra, Yasmin Amelia Ramadhani, dan Dwi Ayu Wijayanti mengangkat isu krusial penanganan cardiac arrest pada pasien hari kedua post-Coronary Artery Bypass Graft (CABG), sebuah kondisi dengan risiko mortalitas tinggi apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.

Dalam karya tersebut, tim menyajikan simulasi asuhan keperawatan komprehensif mulai dari pengkajian ICU, analisis data klinis, penetapan diagnosis keperawatan prioritas, hingga implementasi Advanced Cardiac Life Support (ACLS) secara terintegrasi. Seluruh proses disusun berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI, sehingga memiliki relevansi langsung dengan praktik klinik di rumah sakit.

Menurut Fatimah Azzahra, pendekatan simulasi ini dirancang agar mudah diaplikasikan dalam pembelajaran dan praktik klinik.

“Kami ingin simulasi ini menjadi model pembelajaran yang realistis, sistematis, dan dapat meningkatkan kesiapsiagaan perawat dalam kondisi henti jantung,” jelasnya.

Yasmin Amelia Ramadhani menuturkan bahwa keunggulan karya mereka terletak pada fokus fase kritis pasien.

“Banyak komplikasi fatal terjadi pada hari kedua post-CABG. Di sinilah perawat memegang peran sentral dalam pemantauan, deteksi dini, dan tindakan penyelamatan,” ungkapnya.

Sementara itu, Dwi Ayu Wijayanti menambahkan bahwa simulasi ini juga menekankan aspek kolaborasi dan komunikasi tim.

“Penanganan cardiac arrest tidak bisa dilakukan sendiri. Simulasi ini melatih koordinasi, kepemimpinan, dan ketepatan keputusan klinis,” ujarnya.

Kaprodi Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, Ph.D, menilai karya mahasiswa ini mencerminkan capaian pembelajaran yang utuh.

“Mahasiswa tidak hanya memahami teori, tetapi mampu mengaplikasikan ke dalam konteks klinis yang kompleks dan berisiko tinggi. Ini adalah kompetensi inti perawat profesional,” tegasnya.

Ia berharap model simulasi ini dapat dikembangkan lebih lanjut sebagai media pembelajaran di laboratorium keperawatan dan menjadi referensi bagi institusi pendidikan keperawatan lainnya.