
Bulan Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai momentum spiritual, tetapi juga sebagai ruang refleksi sosial dan budaya. Hal inilah yang menjadi semangat dalam rangkaian webinar “Mengaji Budaya” yang diselenggarakan Pusat Studi Kebudayaan Universitas Muhammadiyah Malang.
Kegiatan tersebut berlangsung selama empat hari dan menghadirkan dua belas pembicara dari berbagai disiplin ilmu, diikuti oleh sekitar 320 peserta yang terdiri dari mahasiswa, guru, dan masyarakat umum.
Salah satu perspektif menarik dalam forum tersebut disampaikan oleh Tutu April Ariani, SKp., MKes., Ph.D., dosen Departemen Keperawatan Jiwa UMM. Ia mengangkat tema “Budaya sebagai Ruang Pembentukan Subjek: Pendidikan, Kesehatan Holistik, dan Refleksi Sosial Berbasis Kearifan Lokal.”
Dalam pemaparannya, Tutu menegaskan bahwa budaya memiliki peran fundamental dalam proses pembentukan identitas manusia, termasuk dalam aspek kesehatan mental.
Menurutnya, manusia tidak hanya dibentuk oleh faktor biologis, tetapi juga oleh lingkungan sosial dan budaya yang membentuk cara berpikir, emosi, serta perilaku mereka.
“Dalam keperawatan jiwa, kita memahami bahwa manusia adalah makhluk biopsikososial-spiritual. Artinya, kesehatan mental seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan budaya tempat ia tumbuh dan berinteraksi,” jelasnya.
Ia menilai bahwa tradisi budaya lokal sebenarnya menyediakan ruang refleksi sosial yang sangat penting bagi masyarakat. Dalam kegiatan budaya, individu belajar memahami dirinya, relasi sosialnya, serta nilai-nilai yang mengikat komunitasnya.
Bagi Tutu, inilah yang membuat budaya menjadi ruang pembentukan subjek—yakni proses di mana individu membangun identitas, makna hidup, dan posisi sosialnya dalam masyarakat.
Ia menambahkan bahwa di era modern, manusia sering dihadapkan pada tekanan sosial yang tinggi akibat perubahan gaya hidup, digitalisasi, serta kompetisi sosial yang semakin intens.
Kondisi tersebut dapat memicu berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, stres kronis, hingga kelelahan emosional.
“Budaya lokal sebenarnya menyediakan ruang untuk memperlambat ritme kehidupan yang terlalu cepat. Tradisi dan praktik budaya memberikan kesempatan bagi individu untuk melakukan refleksi diri serta membangun kembali relasi sosial yang sehat,” ujarnya.
Dalam konteks pendidikan, ia menekankan bahwa mahasiswa kesehatan perlu memahami dimensi budaya dalam praktik pelayanan kesehatan.
Menurutnya, pendekatan kesehatan yang hanya menitikberatkan pada aspek medis sering kali tidak cukup untuk memahami kompleksitas masalah kesehatan masyarakat.
“Seorang perawat harus mampu melihat pasien sebagai bagian dari komunitas budaya tertentu. Pemahaman terhadap nilai budaya akan membantu perawat memberikan asuhan yang lebih empatik dan kontekstual,” tambahnya.
Melalui forum “Mengaji Budaya” tersebut, Tutu berharap semakin banyak disiplin ilmu yang melihat budaya sebagai sumber pengetahuan penting dalam memahami manusia secara utuh.
Ia juga menekankan bahwa integrasi antara ilmu kesehatan dan kebudayaan merupakan langkah penting dalam membangun pendekatan kesehatan yang lebih humanistik.
“Budaya bukan sekadar masa lalu yang harus dilestarikan. Ia adalah sumber pengetahuan yang dapat membantu kita memahami manusia secara lebih utuh—termasuk dalam upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan sosial masyarakat,” tutupnya.