Yessy Mempresentasikan pengalaman Kerjanya Di Jepang
Yessy Mempresentasikan pengalaman Kerjanya Di Jepang

Prodi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu perguruan tinggi kesehatan di Indonesia yang mampu mencetak lulusan berprestasi dan berdaya saing global. Hal itu tergambar melalui kisah perjalanan Yessy Witantry, S.Kep., Ners, alumni Program Studi Ilmu Keperawatan yang kini bekerja sebagai perawat di Seihikari Gaoka Hospital, Jepang. Pengalamannya disampaikan dalam sebuah presentasi seminar nasional keperawatan yang berjudul About Nurse, UMM and Japan, yang memotret perjalanan akademik, perjuangan, hingga pencapaian yang berhasil diraih setelah meniti karier ke luar negeri.

Dalam penyampaiannya, Yessy memperkenalkan diri sebagai lulusan Ilmu Keperawatan UMM tahun 2018. Ia mengaku bahwa perjalanan menuju dunia internasional bukan sekadar keberuntungan, tetapi hasil dari proses panjang yang menuntut kedisiplinan, kesiapan mental, komitmen belajar, serta keberanian mengambil risiko. Usai menyelesaikan pendidikan sarjana keperawatan dan menjalani profesi ners, ia langsung bergabung dalam program pasca sarjana dan pelatihan yang difasilitasi UMM, sehingga membuka jalan menuju profesionalitas keperawatan di Jepang.

Keperawatan sendiri, menurut Yessy, adalah bentuk pelayanan kesehatan profesional yang tidak hanya bersinggungan dengan keterampilan teknis semata. Lebih dari itu, keperawatan adalah pekerjaan berbasis empati, komunikasi, edukasi, inovasi, dan pertanggungjawaban moral terhadap keselamatan manusia. “Dunia terasa lebih indah saat sehat,” ungkapnya dalam materinya, sebagai pengingat sederhana bahwa esensi dari profesi ini bukan sekadar merawat, tetapi menjaga harkat kehidupan.

Ia memaparkan peran perawat yang begitu luas dalam sistem kesehatan. Mulai dari pemberi asuhan, edukator, komunikator, kolaborator, rehabilitator, hingga manajer pelayanan kesehatan. Namun, di balik peran itu, ada ironi yang kerap terjadi: masyarakat lebih mengenal dokter sebagai pusat pelayanan, padahal perawatlah yang bekerja 24 jam mendampingi pasien dalam kondisi apa pun. Pandangan kritis ini menjadi sentilan bahwa penghargaan terhadap profesi perawat masih perlu terus diperjuangkan, termasuk di Indonesia.

Yessy mengisahkan bahwa setelah lulus dari Prodi Keperawatan UMM, ia mengikuti kursus bahasa Jepang yang disediakan oleh Prodi Keperawatan UMM hingga akhirnya lulus ujian kemampuan bahasa Jepang level N4 secara gratis. Proses ini menjadi pintu gerbang penting sebelum diberangkatkan ke Negeri Sakura, sebab Jepang memiliki standar etika dan komunikasi yang sangat ketat dalam keperawatan. Bersama rekan-rekannya, ia menempuh pelatihan lanjutan di lembaga khusus sebelum benar-benar diberangkatkan pada Oktober 2020—tepat di tengah badai pandemi Covid-19. Keberangkatan itu bahkan tertunda enam bulan sebelumnya, sebuah kondisi yang menguji kesabaran dan komitmen seluruh peserta program.

Yessy dan Moderator Tampil dalam seminar Keperawatan
Yessy dan Moderator Tampil dalam seminar Keperawatan

Di Jepang, Yessy memulai pengalaman pertamanya sebagai staff kaigo di Nursing Home Keihoen, prefektur Gunma. Bekerja di fasilitas lansia selama tiga tahun, ia mendapatkan banyak peluang untuk berkembang, mulai dari pelatihan lanjutan hingga ujian penyetaraan akademik. Tidak hanya itu, ia juga menempuh pendidikan lanjutan untuk meningkatkan kompetensinya hingga akhirnya mendapatkan kesempatan bergabung dengan Seihikari Gaoka Hospital sebagai tenaga keperawatan penuh.

Di rumah sakit tersebut, Yessy mengaku belajar banyak hal baru, termasuk pengetahuan mengenai kebijakan Do Not Resuscitate (DNR) serta praktik perawatan paliatif komprehensif—dua bidang yang masih berkembang di Indonesia dan belum diterapkan secara merata. Pengalaman ini menjadi bukti bahwa menembus dunia internasional tidak hanya membuka karier, tetapi juga memperluas cakrawala ilmu pengetahuan.

Selain berbicara mengenai profesinya, Yessy turut menggambarkan kehidupan sosial dan budaya Jepang yang menurutnya aman, bersih, tertib, dan memiliki sistem kesehatan berstandar tinggi. Negara dengan empat musim itu tidak hanya menawarkan gaji yang layak dan fasilitas profesional yang lengkap, tetapi juga peluang besar pengembangan karier bagi lulusan Indonesia yang siap berkompetisi. Ia menegaskan bahwa Jepang adalah negara yang realistis bagi mereka yang ingin mengejar mimpi menjadi perawat internasional.

Namun dari cerita yang tampak mulus ini, ada pelajaran kritis yang bisa dipahami: perjalanan Yessy tidak terjadi begitu saja. Indonesia masih kekurangan perawat berkompetensi internasional, dan banyak lulusan yang bahkan belum siap dengan tuntutan bahasa, kultur kerja, hingga peraturan medis negara tujuan. Kesuksesan Yessy seharusnya menjadi refleksi bagi lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia—termasuk UMM—untuk semakin agresif menyusun kurikulum berbasis global dan memperkuat jaringan karier internasional.

Pada akhir presentasinya, Yessy mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak ragu mengejar pendidikan di Program Studi Keperawatan UMM dan mempersiapkan diri sebagai perawat internasional. Ia mengungkapkan bahwa peluang karier di Jepang sangat terbuka, selama mahasiswa mau belajar, berdisiplin, dan tidak mudah menyerah.

Kisahnya bukan hanya sebuah perjalanan karier; ini adalah bukti bahwa lulusan keperawatan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan tenaga kesehatan dunia. Ketika banyak orang ragu bahwa profesi perawat memiliki masa depan besar, pengalaman Yessy membuktikan sebaliknya: bahwa dunia keperawatan, jika dijalani dengan kompetensi dan keberanian, mampu membawa seseorang ke panggung global.

Perjalanan Yessy Witantry adalah cermin bahwa universitas di Indonesia mampu menyumbangkan sumber daya manusia yang unggul untuk dunia internasional. Namun cerita ini juga sekaligus menjadi tantangan: apakah kita siap mendorong lebih banyak perawat lain untuk mengikuti langkahnya, atau justru membiarkan pencapaian seperti ini berhenti sebagai kisah individual? Waktulah yang akan menjawabnya.