Malang – Sebuah gagasan yang lahir dari kepedulian terhadap tingginya angka penyakit jantung kini membawa nama Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ke tingkat internasional. Tim mahasiswa Program Studi Sarjana Keperawatan UMM berhasil menjadi finalis dalam 3rd International Student Competition (ISC) 2026 International Essay Competition melalui inovasi bertajuk SIJAVAR: Sustainable Intelligent Immersive System for Holistic Coronary Heart Disease Rehabilitation.
Pencapaian ini menjadi bukti bahwa mahasiswa keperawatan memiliki peran strategis dalam pengembangan inovasi kesehatan berbasis teknologi. Di tengah perkembangan era digital, mahasiswa UMM mampu menghadirkan gagasan yang mengombinasikan ilmu keperawatan, teknologi cerdas, dan pendekatan rehabilitasi yang komprehensif.
Ketua tim, Aisyah Meirani Anugrah Nur Azizah, bersama timnya berhasil melewati proses seleksi yang ketat dari dewan juri internasional. Karya yang mereka susun menawarkan solusi baru bagi pasien penyakit jantung koroner agar dapat menjalani rehabilitasi secara lebih terarah, menarik, dan berkelanjutan.
Dosen pembimbing, Faqih Ruhyanudin, menilai bahwa keberhasilan ini merupakan hasil dari proses pembelajaran yang mendorong mahasiswa untuk berpikir melampaui batas-batas konvensional.
“Mahasiswa saat ini harus mampu melihat persoalan kesehatan secara luas. Mereka tidak cukup hanya memahami aspek klinis, tetapi juga perlu memikirkan bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien,” jelasnya.
Menurut Faqih, kompetisi internasional bukan hanya soal memenangkan penghargaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menguji kualitas ide dan kemampuan akademik mahasiswa dalam lingkungan global yang kompetitif.
Sementara itu, Kaprodi Sarjana Keperawatan UMM, Nur Aini, Ph.D., menegaskan bahwa keberhasilan tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan strategi pengembangan mahasiswa yang diterapkan di program studi.
“Kami ingin membangun budaya akademik yang kuat, di mana mahasiswa terbiasa melakukan riset, menulis karya ilmiah, dan aktif mengikuti kompetisi internasional. Prestasi ini menunjukkan bahwa mahasiswa Keperawatan UMM mampu bersaing dengan mahasiswa dari berbagai negara,” tuturnya.
Lebih lanjut, Nur Aini menjelaskan bahwa kemampuan menghasilkan inovasi merupakan kompetensi penting bagi tenaga kesehatan masa depan. Tantangan kesehatan yang semakin kompleks membutuhkan solusi yang kreatif, kolaboratif, dan berbasis bukti ilmiah.
Ajang ISC sendiri dikenal sebagai kompetisi internasional yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu dan negara untuk menyampaikan ide-ide terbaik dalam menjawab berbagai tantangan global. Karena itu, lolos sebagai finalis menjadi pencapaian yang sangat prestisius.
Bagi UMM, keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan institusi, tetapi juga menunjukkan bahwa pendidikan keperawatan mampu bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Keperawatan tidak lagi dipandang semata sebagai profesi pelayanan, melainkan juga sebagai bidang ilmu yang mampu menghasilkan inovasi dan teknologi kesehatan.
Dengan semangat tersebut, tim mahasiswa Keperawatan UMM kini tengah mempersiapkan diri menghadapi babak final. Harapannya, inovasi SIJAVAR tidak hanya menjadi karya kompetisi, tetapi juga dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi solusi nyata yang memberikan manfaat bagi pasien penyakit jantung koroner di masa depan.