
Malang — Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menegaskan komitmennya dalam penguatan mutu akademik dan praktik keperawatan berbasis bukti melalui penyelenggaraan International Guest Lecture bertema “Empowering Nurses Through Evidence-Based Practice”. Kegiatan ini menghadirkan Wan-Ching Shen, PhD., RN., dosen dan peneliti dari Department of Nursing, National Cheng Kung University (NCKU), Taiwan, sebagai pembicara utama. Kegiatan dilaksanakan secara hybrid learning ruang Theater GKB V UMM (06/01).
Kegiatan yang diikuti oleh dosen dan mahasiswa keperawatan ini tidak hanya menjadi forum pertukaran ilmu lintas negara, tetapi juga ruang refleksi kritis bagi profesi keperawatan dalam menghadapi tantangan pelayanan kesehatan modern yang semakin kompleks, berbasis teknologi, dan menuntut akuntabilitas ilmiah yang tinggi.
Dalam paparannya, Dr. Wan-Ching Shen menekankan bahwa perawat sebagai kelompok tenaga kesehatan terbesar memiliki peran strategis dalam menentukan keselamatan dan kualitas asuhan pasien. Namun, peran besar tersebut, menurutnya, harus diimbangi dengan keputusan klinis yang berlandaskan Evidence-Based Practice (EBP), bukan semata-mata kebiasaan atau tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
“Evidence-Based Practice bukan sekadar konsep akademik, tetapi fondasi profesionalisme perawat. Ketika keputusan klinis mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, keahlian klinis, serta nilai dan preferensi pasien, maka kualitas asuhan dan keselamatan pasien dapat ditingkatkan secara signifikan,” tegas Dr. Shen.
Ia menjelaskan bahwa EBP merupakan pendekatan sistematis dalam pengambilan keputusan klinis yang menggabungkan tiga komponen utama, yaitu hasil riset terkini yang valid, pengalaman dan penilaian klinis perawat, serta nilai, budaya, dan preferensi pasien. Ketiga komponen tersebut harus hadir secara seimbang agar asuhan keperawatan benar-benar berpusat pada pasien (patient-centered care).
Lebih lanjut, Dr. Shen menguraikan tahapan implementasi EBP secara praktis, mulai dari perumusan pertanyaan klinis menggunakan pendekatan PICO/PICOT, penelusuran literatur ilmiah, telaah kritis bukti, penerapan dalam praktik klinik, hingga evaluasi luaran. Ia mencontohkan penerapan EBP pada manajemen diabetes melitus, termasuk pemanfaatan teknologi seperti continuous glucose monitoring, aplikasi kesehatan digital, tele-nursing, hingga edukasi audiovisual dan pengingat berbasis media sosial untuk meningkatkan kepatuhan pasien.

Namun demikian, Dr. Shen juga secara jujur mengangkat berbagai hambatan implementasi EBP di lapangan, seperti keterbatasan waktu akibat beban kerja perawat, akses jurnal ilmiah yang belum merata, hingga resistensi terhadap perubahan. Menurutnya, tantangan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya di level individu, melainkan membutuhkan dukungan institusi, kepemimpinan keperawatan, serta integrasi EBP dalam kebijakan dan kurikulum pendidikan keperawatan.
“Empowering nurses through EBP means empowering them to think critically, to question routine practices, and to become agents of change in healthcare systems,” tambahnya.
Sementara itu, Kaprodi Sarjana Keperawatan FIKES UMM, Nur Aini, PhD, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa International Guest Lecture ini merupakan bagian dari strategi Prodi Keperawatan UMM untuk memperkuat atmosfer akademik global dan menyiapkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.
“Kami ingin mahasiswa keperawatan tidak hanya mahir melakukan tindakan, tetapi juga mampu menjelaskan mengapa suatu intervensi dilakukan berdasarkan bukti ilmiah. Guest lecture internasional seperti ini memperluas wawasan mahasiswa tentang praktik keperawatan global dan menegaskan pentingnya Evidence-Based Practice sebagai nafas profesional perawat,” ujar Nur Aini, PhD.
Ia menambahkan bahwa materi yang disampaikan oleh Dr. Wan-Ching Shen sejalan dengan arah pengembangan kurikulum Prodi Keperawatan FIKES UMM, khususnya dalam penguatan kemampuan berpikir kritis, penyusunan asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI, serta integrasi EBP dalam praktik klinik dan clinical pathway.
Menurutnya, kolaborasi akademik internasional bukan sekadar simbol internasionalisasi, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap kualitas pembelajaran, penelitian, dan praktik keperawatan. Oleh karena itu, Prodi Keperawatan FIKES UMM terus mendorong mahasiswa dan dosen untuk aktif mengembangkan riset terapan, memanfaatkan teknologi kesehatan, serta mengimplementasikan EBP secara konsisten dalam pelayanan keperawatan.
Melalui kegiatan ini, Prodi Keperawatan FIKES UMM berharap dapat menumbuhkan budaya ilmiah yang kuat di kalangan civitas akademika, sekaligus mempertegas peran perawat sebagai profesi yang otonom, kredibel, dan berbasis bukti dalam sistem pelayanan kesehatan.
International Guest Lecture ini menjadi bukti bahwa penguatan mutu keperawatan tidak cukup hanya dengan keterampilan teknis, tetapi harus ditopang oleh keberanian berpikir kritis, kemauan belajar sepanjang hayat, dan komitmen terhadap praktik keperawatan berbasis bukti demi luaran pasien yang lebih baik.