Malang — Sindrom Kaki Gelisah atau Restless Leg Syndrome (RLS) sering kali dianggap sepele, padahal kondisi ini menjadi salah satu penyebab utama insomnia dan kerap tidak terdiagnosis dengan baik. Tiga dosen keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yaitu Nur Aini, S.Kep., Ns., M.Kep., Ollyvia Freeska Dwi Marta, S.Kep., Ns., M.Sc.,dan Lilis Setyowati, MSc., menyampaikan pandangan mereka mengenai risiko besar RLS pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK).
“RLS bukan sekadar gangguan tidur biasa. Gejalanya berupa sensasi tidak nyaman di kaki yang sering muncul di malam hari, dan ini bisa berdampak serius pada kualitas hidup pasien,” ujar Nur Aini. Ia menambahkan bahwa pasien PGK lebih rentan mengalami RLS dibandingkan masyarakat umum.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ketiga dosen ini, pasien PGK memiliki risiko enam kali lebih besar mengalami RLS dibandingkan dengan individu sehat. “Kami menemukan bahwa faktor-faktor seperti indeks massa tubuh yang tinggi dan hasil laboratorium yang tidak normal dapat memperburuk risiko RLS,” jelas Ollyvia Freeska Dwi Marta.
Namun, menurut Lilis Setyowati, gaya hidup sehat tetap menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko. “Tenaga kesehatan harus memberikan edukasi yang tepat kepada pasien untuk menjaga pola makan, berolahraga ringan, dan mematuhi pengobatan secara rutin,” ujarnya.
Ketiganya sepakat bahwa tenaga kesehatan perlu lebih aktif dalam memberikan perhatian kepada pasien. “Kondisi seperti RLS sering kali tidak mendapatkan prioritas, padahal dampaknya sangat besar pada kehidupan sehari-hari pasien. Edukasi dan deteksi dini harus menjadi fokus utama,” tegas Nur Aini.
Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat membuka jalan bagi pengembangan metode intervensi baru untuk menangani gejala RLS. “Kami berharap ke depan ada lebih banyak penelitian dan program yang dapat membantu pasien mengelola RLS, khususnya mereka yang memiliki penyakit ginjal kronis,” kata Ollyvia.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, kesadaran tentang RLS diharapkan meningkat, terutama di kalangan pasien dengan penyakit ginjal kronis yang rentan mengalami gangguan ini. “Kita semua harus bekerja sama untuk memastikan kualitas hidup pasien tetap terjaga,” tutup Lilis Setyowati.