
Malang – Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan wawasan global bagi sivitas akademika melalui penyelenggaraan International Guest Lecture bertema “Bridging Technology and Compassion: The Future of Nursing Care for People with Diabetes”. Kegiatan ini dilaksanakan secara luring di Ruang Theater GKB V UMM dan diikuti oleh dosen serta mahasiswa keperawatan dengan antusiasme tinggi.
Hadir sebagai pembicara utama, Zainal Abidin, S.Kep., Ns., M.Kep., selaku Head of Nursing Services Section Universitas Airlangga Hospital, Indonesia, menyampaikan paparan komprehensif mengenai penguatan peran perawat di era pelayanan kesehatan modern, khususnya dalam perawatan klien dengan Diabetes Melitus. Dalam paparannya, ia menekankan bahwa tantangan utama keperawatan masa depan bukan hanya terletak pada penguasaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menjaga nilai-nilai caring dan empati dalam praktik klinik.
“Perawat merupakan profesi kesehatan terbesar dan berada di garis terdepan pelayanan. Oleh karena itu, setiap keputusan klinis yang diambil harus berlandaskan Evidence-Based Practice (EBP), bukan semata kebiasaan atau rutinitas,” tegas Zainal Abidin. Ia menjelaskan bahwa EBP merupakan pendekatan sistematis yang mengintegrasikan bukti ilmiah terbaik, keahlian klinis perawat, serta nilai dan preferensi pasien dalam setiap pengambilan keputusan keperawatan.
Lebih lanjut, Zainal menguraikan bahwa penerapan EBP sangat relevan dalam pengelolaan Diabetes Melitus yang bersifat kronis dan kompleks. Perawat dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis dalam merumuskan masalah klinis, menyusun pertanyaan berbasis PICO atau PICOT, menelaah bukti ilmiah terkini, hingga mengaplikasikannya secara kontekstual pada kebutuhan pasien. “EBP bukan hanya meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien, tetapi juga memperkuat otonomi profesional perawat dan meningkatkan kepercayaan diri dalam praktik klinik,” ujarnya.
Dalam konteks pemanfaatan teknologi, Zainal Abidin memaparkan berbagai inovasi yang kini semakin terintegrasi dalam asuhan keperawatan diabetes, mulai dari digital glucometer, continuous glucose monitoring (CGM), aplikasi kesehatan berbasis mobile, hingga telemedicine dan telenursing. Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan kontrol glikemik, kepatuhan pasien, serta akses terhadap layanan kesehatan, terutama bagi pasien dengan keterbatasan mobilitas dan geografis.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa teknologi tidak boleh menggantikan sentuhan kemanusiaan dalam keperawatan. “Teknologi adalah alat bantu, bukan tujuan. Esensi keperawatan tetap terletak pada komunikasi terapeutik, dukungan emosional, dan keterlibatan keluarga dalam setiap fase perawatan pasien diabetes,” jelasnya. Menurutnya, keberhasilan asuhan keperawatan sangat bergantung pada kemampuan perawat menjembatani kecanggihan teknologi dengan prinsip patient-centered care.

Paparan juga menyinggung pentingnya clinical pathway dan standar asuhan keperawatan berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI dalam menjamin mutu, efektivitas biaya, serta keselamatan pasien. Melalui penerapan clinical pathway berbasis bukti, perawat memiliki panduan yang jelas dan terukur dalam memberikan asuhan, sekaligus berperan aktif sebagai agen perubahan dalam sistem pelayanan kesehatan.
Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Keperawatan FIKES UMM, Ika Rizki Anggraini, S.Kep., Ns., M.Kep., dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kegiatan International Guest Lecture ini merupakan bagian dari upaya strategis prodi untuk memperkaya perspektif mahasiswa terhadap perkembangan keperawatan global. Ia menegaskan bahwa isu integrasi teknologi dan compassion sangat relevan dengan tantangan pelayanan kesehatan saat ini, khususnya dalam pengelolaan penyakit tidak menular seperti diabetes.
“Kami ingin mahasiswa tidak hanya mahir secara teknis dan akademik, tetapi juga memiliki kepekaan etis dan empati yang kuat. Melalui kuliah tamu internasional ini, mahasiswa diharapkan memahami bahwa masa depan keperawatan menuntut keseimbangan antara penguasaan teknologi, praktik berbasis bukti, dan nilai-nilai kemanusiaan,” ungkap Ika Rizki Anggraini.
Ia juga menambahkan bahwa Prodi Keperawatan FIKES UMM terus mendorong integrasi EBP dan pemanfaatan teknologi digital dalam kurikulum, penelitian, serta praktik klinik mahasiswa. Hal ini sejalan dengan visi prodi dalam menghasilkan lulusan perawat profesional yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri keperawatan sebagai profesi yang berlandaskan caring.
Melalui penyelenggaraan International Guest Lecture ini, FIKES UMM menegaskan perannya sebagai institusi pendidikan keperawatan yang responsif terhadap dinamika global kesehatan. Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memperluas wawasan akademik, tetapi juga menginspirasi mahasiswa dan dosen untuk terus mengembangkan praktik keperawatan yang berbasis bukti, berorientasi teknologi, serta tetap menjunjung tinggi nilai empati dan kemanusiaan dalam merawat pasien diabetes.