
Malang, 5 Januari 2026 – Program Studi Sarjana Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM) mengawali tahun akademik 2026 dengan menyelenggarakan Kuliah Perdana bertajuk “Compassionate and Technological Nursing Care in Diabetes Management: Global Challenges and Future Directions”. Kegiatan ini dilaksanakan di Gedung Theater GKB V UMM dan diikuti oleh ratusan mahasiswa baru Sarjana Keperawatan dengan antusiasme tinggi.
Kuliah perdana ini menjadi momentum penting untuk menegaskan arah pengembangan pendidikan keperawatan UMM yang tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu dan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai compassionate care sebagai ruh utama praktik keperawatan, khususnya dalam menghadapi tantangan penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus yang prevalensinya terus meningkat secara global.
Dalam sambutannya, Kaprodi Sarjana Keperawatan UMM, Nur Aini, PhD, menegaskan bahwa perawatan diabetes di era modern menuntut perawat memiliki kompetensi ganda: kecakapan teknologi dan sensitivitas kemanusiaan.
“Diabetes bukan sekadar masalah klinis, tetapi persoalan jangka panjang yang menyentuh aspek biologis, psikologis, sosial, bahkan spiritual pasien. Oleh karena itu, perawat masa depan harus mampu memanfaatkan teknologi kesehatan—seperti monitoring glukosa digital dan sistem informasi keperawatan—tanpa kehilangan empati dan sentuhan kemanusiaan,” jelas Nur Aini.
Ia menambahkan bahwa tema kuliah perdana ini selaras dengan visi Prodi Sarjana Keperawatan UMM dalam mencetak lulusan yang unggul secara akademik, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan berkarakter Islami serta berorientasi pada nilai kemanusiaan.
Sementara itu, Sekretaris Program Studi Sarjana Keperawatan UMM, Muhammad Ari Arfianto, M.Kep., Sp.Kep.J, menyoroti tantangan global yang dihadapi perawat dalam manajemen diabetes, khususnya terkait kompleksitas kebutuhan pasien dan perubahan sistem layanan kesehatan.
“Tantangan ke depan bukan hanya bagaimana menurunkan kadar gula darah pasien, tetapi bagaimana membantu pasien hidup berdampingan dengan diabetes secara bermakna. Di sinilah peran perawat menjadi sangat strategis sebagai pendamping, edukator, dan advokat pasien, dengan dukungan teknologi yang tepat guna,” ungkapnya.
Menurut Ari, mahasiswa keperawatan sejak awal perlu dibekali perspektif global agar mampu memahami bahwa praktik keperawatan diabetes di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh digital health, tele-nursing, dan interprofessional collaboration, namun tetap berpijak pada nilai etika dan empati.
Kuliah perdana ini juga menjadi ajang penguatan identitas akademik mahasiswa baru Sarjana Keperawatan UMM sebagai calon perawat profesional yang siap menghadapi dinamika pelayanan kesehatan global. Melalui forum ini, mahasiswa diajak untuk tidak memandang teknologi sebagai pengganti peran perawat, melainkan sebagai alat pendukung untuk meningkatkan kualitas asuhan keperawatan yang holistik dan berpusat pada pasien.
Pelaksanaan kegiatan di Gedung Theater GKB V UMM memberikan suasana akademik yang kondusif dan representatif, mencerminkan komitmen Universitas Muhammadiyah Malang dalam menyediakan fasilitas pembelajaran yang mendukung proses pendidikan berkualitas.
Dengan terselenggaranya kuliah perdana ini, Prodi Sarjana Keperawatan FIKES UMM berharap mahasiswa mampu menanamkan sejak dini pemahaman bahwa keperawatan modern tidak cukup hanya canggih secara teknologi, tetapi harus tetap berakar pada nilai compassion, empati, dan kepedulian terhadap martabat manusia, khususnya dalam menghadapi tantangan besar penyakit kronis seperti diabetes di tingkat nasional maupun global.