
Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, riuh oleh semangat positif pada hari pelaksanaan demonstrasi pembuatan Eco Enzyme oleh mahasiswa Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (FIKES UMM). Acara yang digagas untuk memenuhi mata kuliah Wawasan Berkelanjutan ini bukan sekadar agenda akademik rutin—kegiatan ini mengubah ruang pertemuan sederhana menjadi pusat edukasi lingkungan yang hangat, hidup, dan penuh tawa.
Dipimpin oleh Ketua Kelompok, Lista Brillyan Aprillya (NIM 202510420110008), rangkaian kegiatan penyuluhan ini juga didampingi langsung oleh dosen pendamping, Faqih Ruhyanudin, M.Kep., Sp.Kep.MB. Beliau hadir sebagai narasumber kunci sekaligus pembimbing kelompok dalam merancang aksi nyata mahasiswa untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs).
Kegiatan berlangsung bersama Ibu-Ibu PKK RT 03 RW 02, Kelurahan Dadaprejo. Mereka bukan hanya duduk menyimak, tetapi ikut langsung bereksperimen menciptakan Eco Enzyme dari lembaran teori menuju praktik nyata. Sambutan hangat warga membuat sesi pembelajaran terasa cair, tanpa jarak, bahkan penuh dialog kritis mengenai pengelolaan sampah rumah tangga.
Dari Sampah Menjadi Emas Cair: Eco Enzyme dan Keajaiban Fermentasi
Dalam sesi penyuluhan, mahasiswa menjelaskan konsep dasar Eco Enzyme—cairan hasil fermentasi sederhana dari sampah organik buah atau sayur, dicampur gula dan air, didiamkan hingga menghasilkan larutan bermanfaat. Eco Enzyme bukan sekadar tren sesaat; ia adalah produk ekologis yang telah menyebar luas di berbagai negara sejak ditemukan oleh peneliti lingkungan asal Thailand, Dr. Rosukon Poompanvong.
Keberadaannya menjawab keresahan banyak keluarga yang bingung mengolah sampah organik, sekaligus berperan dalam gerakan global peduli bumi. Eco Enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman, pembersih alami serbaguna, penghilang bau, hingga pengendali hama. Bahkan kini sedang viral sebagai campuran sabun cuci muka alami—isu yang langsung memantik gelak dan rasa penasaran dari Ibu-Ibu PKK.
Salah satu warga bahkan bertanya, “Kalau bisa jadi sabun wajah, berarti aman dong untuk kulit sensitif?” Pertanyaan tersebut menjadi momen diskusi menarik. Mahasiswa menjelaskan bahwa meskipun banyak klaim manfaat beredar, penggunaan untuk kulit wajah tetap butuh uji keamanan mendalam agar tidak menimbulkan risiko iritasi. Masyarakat pun terlihat semakin kritis, tidak hanya menerima informasi mentah-mentah.
Belajar Sambil Melawan Habit Lama
Kegiatan bukan hanya mengajarkan teknik fermentasi tiga bulan, tetapi mengvalidasi gagasan bahwa masyarakat desa mampu berperan aktif dalam isu keberlanjutan dunia. Sayangnya, realita tidak selalu manis: sebagian warga mengakui bahwa mengelola sampah organik di rumah masih dianggap merepotkan dan memakan waktu.
Lista sebagai ketua kelompok menegaskan dengan semangat:
“Kesadaran lingkungan bukan pilihan, tapi kebutuhan masa depan. Kalau tidak dimulai dari diri sendiri, siapa lagi?”
Pernyataan ini sempat memicu diskusi hangat. Beberapa warga mengaku skeptis apakah Eco Enzyme benar-benar akan dimanfaatkan konsisten di rumah masing-masing. Namun, melalui dialog intens, peserta mulai melihat bahwa pengelolaan sampah tidak lagi sekadar pekerjaan domestik; ini adalah kontribusi konkret terhadap bumi yang mereka tinggali.
Atmosfer Penuh Energi—PKK Turut Tunjukkan Nyali!
Dalam demonstrasi yang dipandu mahasiswa, Ibu-Ibu PKK dengan antusias menimbang bahan, mengaduk larutan fermentasi, dan bertanya tanpa ragu. Mereka bahkan berniat menjadikan Eco Enzyme sebagai kegiatan rutin di lingkup RT, demi menekan jumlah sampah rumah tangga.
Semangat warga menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas akademik. Ia tumbuh menjadi percakapan sosial, ikatan kebersamaan, dan jembatan bagi perubahan.
Kontribusi Akademik Sekaligus Tanggung Jawab Sosial
Kegiatan ini merupakan bagian dari rencana aksi WB mengenai SDGs yang dirancang kelompok mahasiswa. Mereka berharap melalui edukasi ini masyarakat Dadaprejo lebih sadar bahwa setiap kulit sayur, sisa buah, dan limbah dapur memiliki nilai.
Faqih Ruhyanudin menekankan pentingnya kolaborasi ini:
“Mahasiswa harus belajar ilmu bukan hanya di kelas, tetapi dengan bersama masyarakat. SDGs tidak mungkin tercapai tanpa keterlibatan publik.”
Pernyataan ini sekaligus kritik halus bahwa gerakan lingkungan terlalu sering berhenti sebagai konsep tanpa terhubung ke akar rumput.
Langkah Kecil, Dampak Besar
Masyarakat Dadaprejo kini membawa pulang lebih dari sekadar botol fermentasi—mereka membawa pemahaman baru bahwa sampah punya masa depan, dan bumi butuh sentuhan tangan manusia, bukan sekadar wacana.
Masyarakat berharap kegiatan ini akan menjadi titik awal munculnya kawasan hijau berbasis inovasi lingkungan di Kelurahan Dadaprejo. Dan jika semangat ini berlanjut, bukan tidak mungkin desa kecil ini suatu hari menjadi contoh nasional pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
Karena perubahan besar selalu dimulai dari ruang kecil, dari tangan warga yang peduli, dan dari keberanian untuk mengatakan:
“Kita mampu membuat bumi bernapas lebih lama.”