
Malang — Zaqqi Ubaidillah, seorang dosen Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkapkan hasil penelitian dan pengabdian masyarakatnya yang menarik perhatian. Berfokus pada perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus, penelitian ini dilakukan pada 10 pasien yang dipilih secara acak di poli sebuah puskesmas. Hasilnya, ditemukan bahwa 70% responden memiliki tingkat perilaku perawatan diri yang kurang, sedangkan 30% lainnya berada pada kategori baik.
Zaqqi mengidentifikasi beberapa faktor utama yang memengaruhi efektivitas promosi kesehatan pada pasien diabetes melitus. Di antaranya adalah jumlah tenaga kesehatan yang tersedia, jumlah kunjungan pasien ke fasilitas kesehatan, serta efektivitas program edukasi, termasuk penggunaan media edukasi. Berdasarkan temuan ini, tim pengabdian masyarakat yang dipimpin Zaqqi melaksanakan kegiatan promosi kesehatan melalui pemeriksaan dan pemantauan kesehatan mandiri (self-health assessment) yang dipadukan dengan booklet edukasi mengenai pengelolaan diabetes melitus.
Hasil analisis lebih lanjut menunjukkan distribusi demografi responden yang menarik. Sebanyak 50% responden adalah perempuan dan 50% lainnya laki-laki. Berdasarkan tingkat pendidikan, mayoritas responden (50%) memiliki tingkat pendidikan menengah (SMA/SMK), disusul oleh 37,4% responden dengan pendidikan tinggi (akademi/PT), dan sisanya, sebanyak 12,4%, berpendidikan rendah (SD/SMP).
Respons pasien terhadap program inovasi keperawatan ini sangat positif. Sebanyak 14 dari 16 pasien (87,5%) yang berpartisipasi menyatakan puas dengan pendekatan promosi kesehatan yang diberikan, baik melalui pemeriksaan mandiri maupun booklet edukasi. Namun, 2 pasien (12,5%) menyatakan kurang puas, yang diduga berkaitan dengan preferensi individu terhadap cara penyampaian informasi.
Dalam wawancara, Zaqqi menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam mendukung pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes melitus. “Promosi kesehatan bukan hanya sekadar memberikan informasi, tetapi juga memberdayakan pasien agar mampu mengelola kesehatannya secara mandiri. Pendekatan seperti self-health assessment dan booklet edukasi adalah langkah konkret untuk meningkatkan keterampilan pasien dalam merawat dirinya sendiri,” jelasnya.
Lebih lanjut, Zaqqi mengungkapkan bahwa pasien yang lebih teredukasi cenderung memiliki kepatuhan lebih tinggi dalam mengelola kondisi diabetes melitus mereka. “Kami menemukan bahwa tingkat pendidikan memiliki korelasi langsung dengan kemampuan pasien memahami materi edukasi yang diberikan. Oleh karena itu, media edukasi seperti booklet kami desain dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami,” tambahnya.
Sebagai penutup, Zaqqi berharap penelitian ini dapat menjadi inspirasi bagi program kesehatan serupa di berbagai fasilitas kesehatan lainnya. “Hasil dari program ini menunjukkan bahwa inovasi dalam keperawatan, jika dilakukan dengan pendekatan yang relevan, dapat memberikan dampak besar dalam meningkatkan kualitas hidup pasien. Kami berkomitmen untuk terus mengembangkan inovasi ini agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas,” tutupnya.
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Peningkatan Promosi Kesehatan Melalui Pemantauan Kesehatan Mandiri pada Pasien Diabetes Melitus: Self-Monitoring In Diabetes Mellitus Patients”, Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/patimatusshahro3950/67527088ed64150a7e350db3/peningkatan-promosi-kesehatan-melalui-pemantauan-kesehatan-mandiri-pada-pasien-diabetes-melitus-self-monitoring-in-diabetes-mellitus-patients?page=1&page_images=1
Kreator: Patimatusshahro
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Tulis opini Anda seputar isu terkini di Kompasiana.com