Fikes UMM Jadi Tuan Rumah RTA 2024 AIPNEMA, Wamen Dikti Saintek Prof Fauzan Beri MotivasiProgram Studi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (Fikes UMM) mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dalam pertemuan Rapat Tahunan Anggota (RTA) 2024 Asosiasi Institusi Pendidikan Ners Muhammadiyah dan Aisyiyah (AIPNEMA). Acara yang diselenggarakan pada Kamis (12/12/2024) bertempat di Hotel Rayz UMM ini dihadiri oleh 77 delegasi dari 36 lembaga pendidikan tinggi, serta Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Indonesia, yang turut membuka acara tersebut.

Dalam sambutannya, Dekan Fikes UMM, Dr. Yoyok Bekti Prasetyo, MKep, SpKom, menjelaskan bahwa pertemuan tahunan ini bertujuan untuk membahas isu penting terkait tata kelola pendidikan keperawatan di Indonesia. “Isu utama yang kami angkat adalah bagaimana menyusun sistem pendidikan keperawatan yang tidak hanya memenuhi standar nasional, tetapi juga mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global,” ujarnya.

Keperawatan Indonesia, menurut Dr. Yoyok, saat ini menghadapi peluang besar di pasar internasional, terutama untuk bekerja di negara seperti Jepang dan Jerman. Namun, tantangan terbesar yang dihadapi adalah peningkatan kualitas lulusan dalam hal keterampilan bahasa asing dan mentalitas profesional. “Mahasiswa keperawatan kita memiliki potensi yang luar biasa, baik dari segi teori maupun pemahaman keilmuan. Tantangannya kini ada pada penguasaan bahasa asing, yang menjadi salah satu persyaratan utama bagi perawat yang ingin bekerja di luar negeri, seperti Jerman yang mengharuskan sertifikat bahasa Jerman level B2,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Yoyok menambahkan bahwa lembaga pendidikan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah kini tengah berupaya untuk memperbaiki standar kurikulum, fasilitas laboratorium, dan referensi yang digunakan dalam pendidikan keperawatan, guna meningkatkan kualitas lulusan yang siap bersaing di pasar global. “Melalui sinergi antar lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah, kami berharap dapat menciptakan sistem yang lebih kuat dan berkelanjutan,” tandasnya.

Peran Program Studi Keperawatan UMM dalam Meningkatkan Kualitas Lulusan

Ketua Program Studi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang, Edi Purwanto, MNg, menambahkan bahwa peran Program Studi Keperawatan UMM dalam meningkatkan kualitas lulusan sangat krusial, terutama dalam mendukung upaya bersama untuk memenuhi kebutuhan pasar global. “Kami di Prodi Keperawatan UMM selalu berupaya untuk memberikan pendidikan yang berkualitas dengan mengintegrasikan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan industri, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Kami juga aktif memperkenalkan mahasiswa pada berbagai kesempatan magang dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan praktis mereka,” ujar Edi.

Edi Purwanto juga menyoroti pentingnya kolaborasi antar lembaga pendidikan keperawatan Muhammadiyah dan Aisyiyah dalam memperkuat kualitas pendidikan dan mengatasi tantangan di pasar tenaga kerja global. “Kolaborasi ini tidak hanya mencakup penguatan kurikulum, tetapi juga peningkatan fasilitas pendidikan, seperti lab simulasinya, serta pelatihan bahasa yang akan mempersiapkan lulusan kami untuk dapat bekerja di luar negeri,” ungkapnya.

Sinergi untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan Keperawatan

Ketua AIPNEMA, Dr. Mundakir SKep Ns MKep, yang juga hadir dalam pertemuan tersebut, mengungkapkan bahwa lembaga pendidikan Ners Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki 90 program studi, dengan 24 di antaranya memperoleh akreditasi unggul. “Program studi Keperawatan di perguruan tinggi Muhammadiyah memang masih bervariasi. Saat ini ada 23 prodi yang terakreditasi unggul, dan kami terus berupaya meningkatkan kualitas seluruh prodi keperawatan di PTMA untuk sejajar dengan standar global,” paparnya.

Dr. Mundakir juga menyoroti isu distribusi dan gaji lulusan perawat yang masih rendah. Ia berharap permasalahan ini dapat disampaikan kepada Menteri Kesehatan agar ada perhatian lebih terhadap kondisi tersebut. “Meskipun tenaga kesehatan sangat dibutuhkan, perawat sering kali menerima gaji yang tidak sesuai dengan peran penting yang mereka jalankan. Kami berharap lewat Wamen dapat dicarikan solusi, termasuk membuka lebih banyak peluang pendidikan untuk bekerja di luar negeri,” tambahnya.

Prof. Fauzan, yang juga memberikan motivasi dalam acara ini, menekankan pentingnya inovasi dalam pendidikan keperawatan. “Perguruan tinggi Muhammadiyah harus memiliki kekhususan dalam pengelolaan program studi keperawatan. Tantangan yang dihadapi ke depan sangat besar, dan jika tidak berinovasi, kita akan tertinggal,” katanya. Ia juga menegaskan bahwa Rapat Tahunan Anggota ini tidak hanya sekadar pertemuan administratif, tetapi harus menjadi momentum untuk merubah pola pikir dan memperkuat kualitas pendidikan tinggi keperawatan.

Sebagai langkah lanjutan, pasca pertemuan ini, AIPNEMA menargetkan adanya publikasi bersama antara lembaga-lembaga pendidikan keperawatan Muhammadiyah dan Aisyiyah, dengan jumlah publikasi yang diharapkan mencapai 30 hingga 60 artikel ilmiah. Dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi yang semakin erat, pendidikan keperawatan di Indonesia, khususnya di lembaga pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah, diharapkan dapat semakin berkembang dan berdaya saing di tingkat internasional.