Dr. Tutu Memberikan Materi tentang stop Bullying
Dr. Tutu Memberikan Materi tentang stop Bullying

Prodi Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang kembali menarik perhatian publik melalui penyelenggaraan Seminar Nasional Keperawatan bertema “Healthy Mind, Safe School: Bersama Ciptakan Lingkungan Sekolah Bebas Bullying”. Seminar ini dihadiri oleh sekitar 530 siswa SMA dari seluruh Indonesia dan berlangsung secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Jumlah peserta yang besar serta keterlibatan siswa dari berbagai wilayah menjadi bukti tingginya perhatian generasi muda terhadap isu bullying di sekolah, sekaligus menunjukkan komitmen Prodi Keperawatan FIKES UMM dalam penguatan pendidikan mental health berbasis evidence dan praktik keperawatan.

Acara ini menghadirkan narasumber utama, Tutu April Ariani, SKp., M.Kes., Ph.D, seorang pakar keperawatan jiwa dari FIKES UMM. Melalui pendekatan ilmiah dan gaya penyampaian yang lugas, beliau mengajak para peserta untuk melihat bullying bukan hanya sebagai masalah sosial, tetapi sebagai fenomena klinis yang berdampak langsung pada kesehatan psikologis remaja. Sejak awal pemaparan, Dr. Tutu mengajak para peserta untuk melakukan refleksi mendalam terhadap perilaku sehari-hari. Tanpa disadari, candaan, ejekan fisik, julukan yang dianggap lucu, hingga komentar seperti “baper banget sih” ternyata menyimpan unsur kekerasan psikologis yang sering dinormalisasi.

Menurut Dr. Tutu, bullying harus ditempatkan dalam perspektif kesehatan jiwa karena sifatnya yang agresif dan terencana dapat mengakibatkan trauma berkepanjangan. Beliau menegaskan bahwa bullying memiliki ciri utama berupa ketidakseimbangan kekuasaan antara pelaku dan korban. Dalam forum tersebut, beliau mempertanyakan kembali anggapan lama yang menyatakan bahwa bullying dapat membentuk mental lebih kuat. Pandangan demikian menurutnya keliru, karena bukti ilmiah menunjukkan bullying menyebabkan luka emosional yang jauh lebih berat dibandingkan dampak fisik.

Seminar ini juga disertai pemaparan data global yang memperkuat urgensi diskusi. Organisasi Kesehatan Dunia mencatat meningkatnya angka bullying pada remaja di seluruh dunia, termasuk cyberbullying yang berkembang seiring penggunaan media sosial. UNESCO menunjukkan bahwa hampir sepertiga remaja dunia pernah menjadi korban perundungan di sekolah. Dr. Tutu menekankan bahwa angka tersebut tidak hanya menyiratkan kurangnya pengawasan, tetapi juga adanya masalah struktural yang berkelanjutan dalam sistem sosial pendidikan.

Peserta SMA Berdiskusi dalam seminar
Peserta SMA Berdiskusi dalam seminar

Dalam pemaparannya, Dr. Tutu menjelaskan bahwa bullying tidak sekadar terjadi karena perilaku individu, tetapi merupakan hasil dari berbagai faktor yang saling terhubung. Lingkungan sekolah yang kurang aman, budaya senioritas, lemahnya empati, ketidakseimbangan kekuasaan sosial, pola asuh keluarga, dan tekanan akademik menjadi akar yang memupuk perilaku perundungan. Beliau juga menyoroti peran media digital yang membuat pelaku kerap merasa tidak dapat disentuh, karena dapat melakukan cyberbullying tanpa harus hadir secara fisik.

Dr. Tutu kemudian mengembangkan pembahasan mengenai bentuk-bentuk bullying yang kerap muncul dalam lingkungan pendidikan. Perundungan fisik serta verbal dianggap sebagai bentuk yang paling mudah dikenali, tetapi bentuk non-fisik seperti pengucilan sosial dan penyebaran gosip justru lebih sulit terdeteksi, walaupun dampaknya tidak kalah merusak. Cyberbullying yang mengalir melalui berbagai platform digital bahkan dinilai jauh lebih berbahaya karena ruang penyebarannya tidak terbatas.

Seminar ini memperkuat pemahaman bahwa bullying memberikan dampak serius, terutama pada kesehatan mental. Korban dapat mengalami depresi, kecemasan, menurunnya prestasi, gangguan tidur, hilangnya rasa percaya diri, hingga dorongan menyakiti diri sendiri. Dalam paparannya, Dr. Tutu menegaskan bahwa luka psikologis sering kali lebih dalam daripada luka fisik. Bekas perundungan dapat terbawa hingga dewasa dan mempengaruhi pola hubungan sosial seseorang.

Selain memaparkan masalah, seminar ini juga mengangkat peran penting sekolah, guru, dan siswa dalam menciptakan lingkungan aman. Guru disebut memiliki fungsi strategis dalam menyediakan ruang aman bercerita, membangun kedekatan emosional dengan siswa, serta memfasilitasi sistem pelaporan kasus bullying yang efektif dan tidak menghakimi. Sementara itu, siswa didorong agar tidak bersikap pasif ketika melihat teman menjadi korban. Diam dalam kasus bullying, menurut Dr. Tutu, sama saja dengan membiarkannya terus berkembang.

Melalui seminar ini, Prodi Keperawatan FIKES UMM menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang tidak hanya fokus pada keilmuan medis, tetapi juga pada pembangunan karakter sehat secara psikologis dan sosial. Ratusan siswa dari berbagai provinsi yang hadir pada kegiatan ini menunjukkan bahwa isu bullying telah menjadi perhatian Nasional. Seminar ini juga seakan menegaskan bahwa kesehatan mental bukan lagi topik pelengkap, tetapi bagian esensial dari proses pendidikan.

Dengan diakhiri ajakan reflektif dari Dr. Tutu April Ariani, seminar ini menanamkan pemahaman penting bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang pertumbuhan dan perlindungan, bukan ruang trauma. Ia mengajak setiap peserta untuk berani mengubah cara pandang, menolak praktik perundungan dalam bentuk apapun, serta membangun budaya empati. Harapannya, ilmu yang diperoleh dari seminar ini tidak berhenti hanya sebagai wacana, tetapi menjadi langkah nyata menuju upaya kolektif menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan bebas bullying di seluruh Indonesia.