Malang, Indonesia — Diabetes, penyakit kronis yang memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, tidak hanya menjadi tantangan fisik tetapi juga emosional. Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Zaqqi Ubaidillah, dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), mengungkap hubungan signifikan antara tingkat spiritualitas dan tingkat stres pada pasien diabetes.

Dalam studi ini, sebanyak 150 pasien diabetes berpartisipasi melalui teknik aksidental sampling. Penelitian menggunakan kuesioner Multidimensional Measure of Religiousness/Spirituality dan Perceived Stress Scale-10 untuk mengukur tingkat spiritualitas serta stres responden. Dengan metode analisis statistik Spearman Rho, hasil menunjukkan p-value 0,000 (<0,05), menegaskan adanya korelasi signifikan antara spiritualitas dan stres.

Zaqqi Ubaidillah menjelaskan, “Stres dapat memperburuk kondisi pasien diabetes, memengaruhi keseimbangan fisiologis serta aspek fisik, psikologis, sosial, hingga spiritual. Namun, spiritualitas yang tinggi terbukti membantu pasien mengelola stres dengan lebih baik.”

Stres diketahui memperburuk komplikasi diabetes dengan mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan kadar gula darah, dan mengurangi efektivitas pengobatan. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa pasien dengan tingkat spiritualitas yang tinggi cenderung memiliki stres yang lebih rendah, memberikan peluang untuk intervensi berbasis spiritualitas sebagai bagian dari manajemen diabetes.

“Spiritualitas memberikan rasa tenang, harapan, dan makna hidup yang membantu pasien menghadapi tantangan penyakit kronis,” tambah Zaqqi.

Adapun cara mengelola stress pada pasien diabetes yaitu, dengan melakukan praktik keagamaan atau spiritual, pendekatan holistik, dukungan sosial, dan konseling psikologis.

Salah satu pasien yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan, “Saya merasa lebih tenang dan kuat menghadapi diabetes setelah rutin menjalankan ibadah dan berbagi cerita di kelompok pengajian.”

Zaqqi menyarankan agar pendekatan spiritualitas mulai dipertimbangkan sebagai bagian dari program pengelolaan diabetes di layanan kesehatan. Penelitian ini menjadi bukti bahwa kesehatan bukan hanya soal fisik, tetapi juga jiwa yang seimbang.

Penemuan ini membuka peluang besar bagi tenaga medis untuk mengembangkan intervensi berbasis spiritualitas dalam upaya meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes. Dengan integrasi yang tepat, kesehatan holistik dapat terwujud, menjadikan hidup pasien lebih bermakna dan produktif.

Penelitian ini tidak hanya menyoroti pentingnya pengelolaan stres pada pasien diabetes tetapi juga memberikan bukti kuat bahwa spiritualitas memiliki peran krusial dalam mendukung kesehatan mental dan fisik. Dengan pendekatan yang komprehensif, pasien diabetes dapat mengelola penyakitnya secara lebih efektif dan menjalani hidup dengan lebih optimis.