Caping Day Ners 33 FIKES UMM: Momentum Sakral Lahirnya Ners Muda Siap Mengabdi
Program Studi Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan di Universitas Muhammadiyah Malang kembali menggelar momen penting dalam perjalanan pendidikan keperawatan melalui kegiatan Caping Day Ners Muda Angkatan 33. Acara ini menjadi simbol kesiapan mahasiswa profesi untuk memasuki tahap praktik klinik secara langsung di rumah sakit dan puskesmas. Caping Day bukan sekadar seremoni akademik. Lebih dari itu, kegiatan ini menandai awal perjalanan pengabdian para calon perawat yang akan berhadapan langsung dengan pasien, keluarga pasien, serta dinamika pelayanan kesehatan di lapangan. Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UMM, Dr. apt. Hidajah Rachmawati, S.Si., Sp.FRS., dalam sambutannya menegaskan bahwa Caping Day merupakan simbol komitmen moral dan profesional bagi setiap mahasiswa profesi keperawatan. Ia menekankan bahwa janji yang diucapkan oleh para Ners Muda bukan sekadar rangkaian kata seremonial, melainkan nilai yang harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan tindakan saat memberikan pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, seorang perawat tidak hanya dituntut memiliki keterampilan klinis yang baik, tetapi juga harus memiliki empati, integritas, dan tanggung jawab dalam menjalankan profesinya. “Janji yang diucapkan hari ini bukan sekadar kata-kata, tetapi merupakan komitmen moral yang harus diwujudkan dalam setiap tindakan ketika memberikan pelayanan kepada pasien,” ungkapnya. Ia juga menjelaskan bahwa sebelum memasuki tahap praktik klinik, para mahasiswa telah melalui masa matrikulasi selama kurang lebih satu bulan. Program tersebut dirancang untuk menyamakan persepsi, memperkuat kompetensi dasar, serta mempersiapkan mental mahasiswa sebelum terjun ke dunia pelayanan kesehatan yang sesungguhnya. Selama masa matrikulasi, mahasiswa mendapatkan penguatan berbagai aspek penting dalam praktik keperawatan, mulai dari pemantapan proses keperawatan, keterampilan klinis laboratorium, hingga pembinaan sikap profesional. Dekan FIKES UMM juga menyampaikan bahwa Ners Muda angkatan 33 merupakan angkatan yang istimewa. Tidak hanya berasal dari lulusan S1 Keperawatan UMM, tetapi juga dari berbagai institusi lain yang memilih melanjutkan pendidikan profesi di UMM. Hal ini menunjukkan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap kualitas pendidikan profesi Ners di universitas tersebut. “Kami menyambut saudara semua sebagai bagian dari keluarga besar FIKES UMM. Semoga perjalanan pendidikan ini tidak hanya menjadi proses akademik, tetapi juga perjalanan pembentukan karakter sebagai perawat profesional yang kompeten dan berjiwa pelayanan,” ujarnya. Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan pendidikan profesi bukanlah proses yang mudah. Akan ada berbagai tantangan, kelelahan, bahkan keraguan yang mungkin muncul selama praktik klinik. Namun dengan kesungguhan, semangat belajar, dan niat untuk melayani, para mahasiswa diyakini mampu melewati proses tersebut dengan baik. Di akhir sambutannya, Dekan FIKES UMM berharap para Ners Muda dapat menjaga nama baik profesi, almamater, dan diri mereka sendiri ketika menjalani praktik di berbagai fasilitas kesehatan. Melalui Caping Day ini, Prodi Ners FIKES UMM kembali menegaskan komitmennya untuk mencetak perawat profesional yang tidak hanya unggul dalam keterampilan klinis, tetapi juga memiliki nilai kemanusiaan yang tinggi serta dedikasi kuat dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Dosen Keperawatan Soroti Tren Minuman Manis di Peringatan Hari Ginjal Sedunia, Ajak Masyarakat Jaga Kesehatan Ginjal Sejak Dini
Malang – Peringatan Hari Ginjal Sedunia yang jatuh setiap tanggal 12 Maret menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ginjal. Dalam kesempatan tersebut, dosen keperawatan dengan peminatan keperawatan ginjal, Chairul Huda Al Husna, M. Kep mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap fungsi ginjal dengan menerapkan gaya hidup sehat sejak dini. Menurutnya, ginjal merupakan salah satu organ vital yang memiliki peran sangat penting dalam menjaga keseimbangan tubuh. Organ ini bertugas menyaring zat sisa metabolisme, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, serta membantu mengontrol tekanan darah. Ketika fungsi ginjal terganggu, berbagai sistem tubuh lain juga akan terdampak. Namun demikian, ia menilai kesadaran masyarakat terhadap kesehatan ginjal masih tergolong rendah. Banyak orang baru menyadari pentingnya menjaga ginjal ketika kondisi sudah berada pada tahap lanjut. “Sebagian besar penyakit ginjal berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal. Inilah yang membuat penyakit ginjal kerap disebut sebagai silent disease,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kasus Penyakit Ginjal Kronik saat ini terus meningkat di berbagai negara dan menjadi salah satu masalah kesehatan global. Tanpa upaya pencegahan yang kuat, angka kejadian penyakit ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perubahan gaya hidup masyarakat. Salah satu fenomena yang turut menjadi sorotan adalah maraknya budaya konsumsi minuman kekinian dari berbagai coffee shop, khususnya di kalangan anak muda. Menurutnya, banyak minuman yang dijual mengandung kadar gula tinggi dan sering dikonsumsi secara berlebihan. “Sekarang ini minuman dari coffee shop sangat mudah ditemukan dan menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak di antaranya memiliki kandungan gula yang tinggi. Jika dikonsumsi terus-menerus tanpa kontrol, hal ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik seperti diabetes dan pada akhirnya dapat memicu kerusakan ginjal,” ungkapnya. Ia menjelaskan bahwa konsumsi minuman manis yang berlebihan dapat meningkatkan kadar gula darah secara kronis. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan komplikasi seperti Diabetes Mellitus yang dikenal sebagai salah satu penyebab utama terjadinya Gagal Ginjal. Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman tinggi gula juga dapat meningkatkan tekanan darah dan memperberat kerja ginjal dalam jangka panjang. Melalui momentum ini, ia mengingatkan masyarakat untuk mulai memperhatikan pola konsumsi sehari-hari, termasuk mengurangi minuman manis dan memperbanyak konsumsi air putih. Ia juga menyarankan beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan ginjal, antara lain dengan mencukupi kebutuhan cairan, menjaga tekanan darah tetap stabil, mengontrol kadar gula darah, membatasi konsumsi garam, serta rutin melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tenaga kesehatan, khususnya perawat, memiliki peran strategis dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat terkait pencegahan penyakit ginjal. “Perawat tidak hanya berperan dalam perawatan pasien, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat. Melalui edukasi yang berkelanjutan, kita dapat mendorong masyarakat untuk lebih sadar dalam menjaga kesehatan ginjal,” tuturnya. Ia berharap peringatan Hari Ginjal Sedunia dapat menjadi pengingat bagi masyarakat bahwa menjaga kesehatan ginjal bukan hanya dilakukan ketika sakit, tetapi harus dimulai sejak dini melalui pola hidup sehat dan kesadaran untuk melakukan deteksi dini. “Ginjal adalah organ yang bekerja tanpa henti setiap hari. Karena itu, menjaga kesehatannya adalah investasi penting untuk kualitas hidup kita di masa depan,” pungkasnya.